Minggu, 10 April 2016

Gus Dur di Mata Teman Mengaji di Pondok Pesantren Jombang.(Dikisahkan kembali Oleh :Ayah Debay)

Gus Dur di Mata Teman Mengaji di Pondok Pesantren Jombang.

Jarang Mengaji, Tak Takut Adu Argumen dengan Gurunya
Gus Dur di Mata Teman Mengaji di Pondok Pesantren Jombang.
KAGUM: Sebagai kakak tingkat dan guru ngaji, KH Ilham Makhal dan KH Khudlori hafal betul kebiasan Gus Dur. Keduanya kagum dengan kecerdasan dan keberanian Gus Dur.(jpnn)
Di mata teman-teman mengaji, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang humoris, kritis, dan ’’mbeling’’. Tak jarang dia mengajak debat dan ’’mengusili’’ kiainya. Suatu hal yang tabu bagi kebanyakan santri. Seperti apa?

ROJIFUL MAMDUH, Jombang
KH Ilham Makhal adalah senior KH Abdurrahman Wahid saat belajar di Mualimin, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Usia dia empat tahun lebih tua jika dibandingkan dengan Gus Dur.
Di mata KH Ilham Makhal, Gus Dur adalah orang yang senang guyon. Setiap pagi dia berpakaian rapi dan membaca koran, sebuah kebiasaan yang jarang dilakukan santri ketika itu. Suatu ketika, Ilham mengkritik perilaku Gus Dur tersebut. ’’Gus, sampeyan iku Gus kok maca koran. Seharusnya kan baca Quran,’’ ujarnya. Gus Dur pun langsung menjawab enteng, ’’Awakmu iku ngerti apa, Ham (Kamu itu mengerti apa Ham, Red).’’
Kebiasaan lain Gus Dur yang tak bisa dilupakan Ilham adalah kegemarannya menggoda orang. Bukan hanya teman-temannya, gurunya pun ikut digoda. Menurut Ilham, salahseorang gurunya, KH Khudlori, paling takut terhadap polisi. Gus Dur memanfaatkan hal itu untuk menggoda dia.
Suatu kali, saat KH Khudlori sedang makan, Gus Dur berteriak-teriak di luar. ’’Polisi, polisi,’’ ucap Ilham menirukan Gus Dur. Mendengar itu, sontak KH Khudlori lari masuk kamar meninggalkan makanannya. Namun, setelah tahu digoda, KH Khudlori kembali meneruskan makannya. ’’Ada-ada saja Gus Dur itu,’’ ucap KH Khudlori kala itu.
Gus Dur juga dikenal sangat kritis saat sekolah. Hampir setiap jam pelajaran dia menyampaikan pertanyaan, bahkan argumen baru. Termasuk beradu argumentasi walaupun hal semacam itu acapkali dianggap tabu di lingkungan pesantren. Sebab, seorang santri diharuskan tawaduk kepada kiai yang dimaknai sebagai ketaatan mutlak.
’’Kalau tidak disampaikan sendiri, Gus Dur minta temannya menyampaikan bantahan dan kritiknya,’’ ujar pria 73 tahun itu. Suatu ketika, salahseorang guru menerangkan pelajaran mantiq atau logika. Ada rumus yang menyatakan al-alamu haditsun, kullu haditsun makhluk (alam itu baru dan setiap yang baru adalah ciptaan). Mendengar itu, Gus Dur lantas meminta temannya bertanya. ’’Dahulu mana antara alam dan baru.’’

Gus Dur, kata Ilham, tidak pernah takut. Kepada siapa pun, Gus Dur berani menyampaikan koreksi. Termasuk kepada sang kakek, KH Bisri Syansuri, yang juga pendiri PP Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang. Gus Dur sempat mengaji langsung kepada sang kakek. Suatu ketika, KH Bisri membaca kitab halaman 11. Padahal, semestinya, yang dibaca adalah halaman 14. ’’Gus Dur langsung angkat tangan dan menyampaikan koreksi agar Kiai Bisri membaca halaman 14,’’ kisahnya.
Keberanian itu pula yang ditunjukkan Gus Dur dalam menghadapi rezim Orde Baru. Sebelum era reformasi, Gus Dur sudah sering menyampaikan kritik kepada kepemimpinan Orde Baru. Padahal, kala itu, Presiden Soeharto sangat kuat. ’’Sekitar 1996, saya pernah mengantar Gus Dur ceramah di Solo yang banyak menyampaikan kritik untuk Orde Baru. Tapi, itu dengan bahasa sindiran dan menggugah kesadaran masyarakat,’’ paparnya.
Dalam kenangan Ilham, Gus Dur juga memiliki sisi-sisi mbeling. ’’Tapi, cocok dengan kepintarannya,’’ tambahnya.
Saat di Tambakberas, Gus Dur juga mengikuti pengajian KH Fattah yang tak lain adalah pamannya. KH Fattah biasa mengaji dengan bersandar tiang. Di belakang tiang itu terdapat undhak-undhakan (tangga). Gus Dur biasa meletakkan kitabnya di tangga tersebut. ’’Tapi, saat pengajian sudah dimulai, Gus Dur masih juga tidak kelihatan. Ketika dipanggil teman-temannya agar ikut mengaji, dia dengan enteng menjawab, ’Kitabku sudah ikut ngaji’,’’ tuturnya
Meski demikian, penguasaan kitab kuning Gus Dur luar biasa. ’’Kitab apa pun bisa. Saya belum melihat kiai yang semahir dia dalam penguasaan kitab kuning. Khususnya di Jawa,’’ terang Ilham yang kerap diajak Gus Dur menghadiri berbagai kegiatan.

Pendidikan politik Gus Dur, menurut dia, juga sangat bagus. ’’Gus Dur sering mengatakan bahwa politik itu tutup dan isinya beda,’’ ungkapnya.
Kalau orang masih bisa mengetahui tutup dan isinya sama, berarti politiknya belum matang. Itu pula yang membuat dia kukuh di barisan PKB kubu Muhaimin, sebelum akhirnya terjadi perseteruan. ’’Menurut dia, ya itu cara Gus Dur mendidik. Coba aku musuhi Muhaimin, apa dia bisa,’’ beber anggota Dewan Syura DPC PKB Jombang kelahiran 1936 itu.
’’Pesannya kepada saya agar selalu jujur dan temen (sungguh-sungguh, Red). Sebab, itu sangat langka sekarang ini,’’ tuturnya.
Dia juga banyak mendapat cerita dari Gus Dur. Termasuk tentang studinya di Mesir dan Iraq. ’’Gus Dur bilang hanya empat bulan di Al-Azhar. Dia tidak kerasan karena semua yang diajarkan sudah dia peroleh di Mualimin,’’ urainya.
Karena itu, dia pindah ke fakultas sastra di Baghdad. Dia menilai, itu yang paling bagus. Sebab, untuk bisa masuk harus hafal 1.500 bait syair bersama notnya. ’’Gus Dur memenuhi kualifikasi itu. Makanya, (dia) bisa masuk. Tapi, setelah empat tahun, menjelang ujian akhir, dia keluar begitu saja sehingga tidak mendapatkan ijazah. Dia bilang, ijazah tidak penting karena sudah dapat ilmunya,’’ ujarnya. Karena itu, Gus Dur tidak pernah punya ijazah. Termasuk saat keluar dari Mualimin, Tambakberas.
Gus Dur senang menghadapi apa pun dengan gurauan. Ilham pernah menggojlok dia. ’’Gus, sampeyan itu tidak akan bisa jadi kiai. Sudah tua, bapak sudah tidak ada, tapi masih saja dipanggil Gus. Saya saja kadang-kadang sudah dipanggil kiai,’’ gurau Ilham.
Gus Dur tertawa lepas mendengar itu sambil berucap, ’’Lha pancen kowe tukang nyuwuk,’’ ucap Gus Dur, lantas meneruskan tertawanya.
Ilham mengatakan tidak pernah meminta apa pun kepada Gus Dur. Meskipun, setiap datang ke Jakarta dirinya diterima hangat oleh Gus Dur, walau Paspampres melarang. ’’Gus Dur juga beberapa kali mampir dan menginap di sini,’’ ucap Ilham sambil menunjuk kamar terdepan rumahnya.
Ilham hanya sambat Gus Dur pada 2003. Saat itu dia hanya mampu melunasi biaya haji untuk diri sendiri. Sementara untuk istrinya, dia belum bisa. Biaya haji kala itu Rp 22,6 juta. Dia sudah lunas. Tapi, istrinya kurang Rp 20 juta. Agar bisa berangkat bersama sang istri, akhirnya Ilham wadul ke Gus Dur. ’’Dalam waktu tiga hari, Gus Dur melunasi kekurangan biaya itu.’’
Ilham banyak memiliki kenangan masa remaja bersama Gus Dur. ’’Waktu main bulu tangkis, saya pernah men-smash sampai bagian tengah kacamatanya retak. Ternyata dia juga masih ingat itu. Dulu dia juga suka menggoda saya dan pernah saya pisuhi,’’ bebernya. (*)

Dikisahkan kembali oleh : Ayah Debay
Profile : https://www.facebook.com/groups/1610216669215200/permalink/1752024498367749/
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

Sabtu, 09 April 2016

Dua Kiai "Gila" Beda Zaman (Oleh Muhammad Faishol)

Dua Kiai "Gila" Beda Zaman
Oleh Muhammad Faishol

Kharisma dan kewibaan Gus Dur sebagai salah satu kiai NU yang paling berpengaruh tampaknya tak pernah pudar ditelan zaman. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Namun di balik nama besarnya, ternyata maqom tersebut tidak diperoleh dengan instan. Ada beberapa kebiasaan ‘gila’ yang istiqomah dilakukan Gus Dur semasa hidup.
Gus Dur adalah sosok yang sederhana. Bahkan menurut pengakuan putri-putrinya, tak jarang Gus Dur tidak punya uang untuk keluarga, meskipun sebenarnya banyak yang memberi kepada mantan Ketua PBNU itu. Hal ini berkaitan dengan salah satu prinsipnya, ‘Terima Kasih’. Diterima lalu dikasihkan orang lain, begitulah Gus Dur. Setiap hari ada saja orang yang meminta sumbangan, hampir semua diberi. Dari kebiasaan tersebut, ternyata banyak orang yang tuman (ketagihan) meminta uang. Tak pelak, hal ini membuat Allisa Wahid sering protes. “Pak, mereka cuma bohongin Bapak,” ujar putri sulung mantan Presiden RI ke-4 itu.
Gus Dur hanya menjawab, “Ini uang titipane rakyat. Perkara rakyat itu bohong, itu urusan dia dengan Allah.” Berapapun nominal uang yang disimpan, dengan entengnya Gus Dur memberikannya kepada orang lain. Ternyata, kebiasaan ‘gila’ itu sudah menjadi tradisi kiai-kiai di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Hampir sama dengan Gus Dur, ada sosok lain yang menyerupai yakni KH Marzuki Mustamar. Ada cerita begini. Usai memberikan ceramah pengajian di daerah Pasuruan, salah satu Syuriyah PWNU Jatim ini dihampiri banyak orang, bukan karena ingin memberikan “salam tempel”, justru sebaliknya, banyak orang yang meminta uang. Tanpa berfikir panjang, amplop yang didapat usai ngisi pengajian dibuka, dan dibagi-bagikan dengan nominal yang cukup besar tentunya. Menurut pengakuan sopirnya, kebiasaan seperti ini tidak terjadi sekali dua kali dilakukan oleh kiai kelahiran Blitar ini. Alhasil, tak jarang kiai pulang ke rumah tanpa membawa apa-apa. Menurut pihak lain, David Rahmat Hakiki, salah satu jamaah yang biasa sowan ke ndalem mengatakan, “Abah iku melebune due’ cepet, metune yo cepet, mergane sering nggak peritungan nak soal uang (Abah itu masuk-keluarnya uang cepet. Pasalnya, sering tidak diperhitungkan nominal uang yang akan diberikan kepada orang lain). Ah, disaat banyak orang mengejar dunia, ternyata masih ada dua sosok manusia ‘gila’ yang mau membagi-bagikan uangnya kepada orang lain.
Untuk urusan keluarga, ternyata ada beberapa kesamaan antara dua sosok kiai kharismatik ini. Menurut Allisa Wahid di salah satu acara televisi nasional saat memberikan testimoninya dalam nuansa Hari Ayah (Father’s Day) yang biasa diperingati pada pekan ketiga bulan Juni beberapa tahun silam. Dirinya menuturkan bahwa Gus Dur bukan hanya milik anak-anak kandungnya. Anak ideologisnya banyak, sehingga dimanapun berada Allisa akan merasa aman-aman saja. Namun, ada satu hal yang menurutnya ‘nggak enak’ jadi putrinya Gus Dur. Yaitu, selama hidup hanya dua-tiga kali Gus Dur memiliki waktu penuh untuk liburan, selebihnya prioritas Gus Dur untuk Islam, Indonesia, baru yang terakhir keluarga.
Begitu juga dengan Abah Yai Marzuki, sapaan akrab santri Pondok Pesantren Sabilurrosyad saat memanggil nama kiai yang memiki tujuh anak ini. Meskipun jadwalnya padat untuk memberikan ceramah di pelbagai kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Ternyata hal ini tidak mengurangi keistiqomahannya untuk mengajar santri di pesantren miliknya di daerah Gasek Kecamatan Sukun Kota Malang. Pokonya ada waktu pas di ndalem, entah itu ba’da shubuh, dhuhur, ashar, maghrib, isya’ selalu menyempatkan untuk ‘ngajar’ santri-santrinya.
Suatu ketika, menurut penuturan salah satu santri Sabilurrosyad, Jum’at 19 Februari 2016, dari hasil pemeriksaan laboratorium Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma salah satu putri kandung beliau, Rosa Rahmania (Ning Ocha) divonis terserang Demam Berdarah (DB). Tak pelak, hal ini mengharuskan putrinya tersebut di opname. Saat para santri banyak yang ingin jenguk, lah tiba-tiba Kiai Marzuki malah tepuk tangan tanda santri harus segera ke masjid karena akan ngaji. Sontak, para santri juga bingung, putrinya lagi sakit kok malah ngaji. Inilah kebiasaan dua kiai kharismatik, yang mendahulukan kepentingan umat, dibanding kepentingan keluarga dan pribadinya.
Kegilaan yang terakhir yaitu kesetiaan dua kiai ini kepada satu istrinya. Selama hidupnya, Gus Dur sebenarnya punya banyak alasan dan kesempatan untuk melakukan poligami. Namun, dia tidak melakukan itu. Sampai akhir hayat, Gus Dur memilih setia kepada Sinta Nuriyah, kendati tidak dikaruniai seorang pun anak laki-laki.
Bukan rahasia umum, banyak pihak di kalangan NU yang 'tidak rela' jika seorang kiai 'hanya' memiliki anak perempuan. Ya, Gus Dur yang memiliki empat anak perempuan sempat disarankan untuk menikah lagi, bahkan sering diperkenalkan dengan perempuan-perempuan lain untuk 'nikah siri' demi mempunyai keturunan laki-laki. Namun, dia menentang dan memilih 'kabur' dari perempuan-perempuan itu.
Salah satu cerita yang mungkin jarang orang tahu, suatu ketika saat Gus Dur sowan ke salah satu kiai sepuh di Problinggo, tiba-tiba shohibul bait (tuan rumah) memanggil seorang laki-laki yang dikuti beberapa orang lainnya. Mereka akhirnya terlibat obrolan dan guyonan bersama. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kiai sepuh itu bilang, ”Bapak ini kepingin sekali bil barokah dari Gus Dur.”
Bil barokah? Apa pula maksud kiai ini? Gus Dur heran dan terkejut. Wong niat datang ke Probolinggo hanya sekedar sowan kok malah ditodong bil barokah segala, pikirnya.
“Bil barokah gimana yai?” tanya Gus Dur. Sang kiai menjelaskan, ”Ini anaknya minta dinikahkan sekarang juga dengan Gus Dur, dan ini orang tuanya yang datang sendiri. Kalau perlu nanti anaknya juga segera didatangkan.”
Setelah terdiam sebentar, dengan grogi Gus Dur berkata, “Yai kamar mandinya dimana? Saya izin ke belakang”. Gus Dur segera bangun dari duduknya, dan menyelinap keluar lewat pintu belakang. Langsung ‘ngacir’ untuk pulang karena takut dinikahkan.
Begitu juga dengan Kiai Marzuki, menurut cerita, kiai yang juga santri dari Almaghfurlah KH Masduqi Mahfudh ini memiliki pandangan yang lebih ringkas terkait poligami. Baginya, keinginan seorang menikah lebih dari satu istri, hendaknya melalui berbagai pertimbangan, bukan semata kepentingan libido. Dirinya mengakui dan membenarkan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk menikah lebih dari satu istri. Akan tetapi hal tersebut hendaknya dipikir secara matang. Menurutnya, tidak fair rasanya saat menikah dengan istri pertama hidup prihatin, masih mempersiapkan landasan keluarga, serta ekonomi yang penuh duka sementara setelah sukses menikah lagi dan istri selanjutnya tinggal menikmati kesuksesan tersebut.
Kiai Marzuki sendiri mengaku butuh waktu 10 tahun untuk bisa merasakan hidup cukup seperti saat ini. Apalagi dalam beberapa kasus (tidak semua), kebanyakan keberadaan istri kedua mendapat perhatian lebih dibanding istri pertama. Padahal, untuk bisa melahirkan anak-anak yang cerdas dan berakhlak mulia harus diawali dengan kondisi calon ibu yang memiliki kesiapan fisik dan psikis yang baik. ”Bagaimana akan lahir anak yang cerdas dan memiliki banyak keunggulan kalau sang ibu merasa tidak bahagia dikala hamil,” ungkapnya. Malahan, ketika rutinan ngaji wetonan di Pesantren Sabilurrosyad, Kiai Marzuki memberi peringatan tegas kepada salah satu putranya, Habib Nur Ahmad, yang saat itu juga sedang mengikuti wetonan, ”Habib, engkok lek atene nikah, kudu gawe surat peryataan bermaterai ben nggak wayuh (Habib nanti kalau mau menikah harus membuat surat peryataan bermaterai agar nantinya tidak poligami)” ujar Kiai Marzuki yang sontak membuat ratusan santri tertawa terpingkal-pingkal.
Yah, dua orang kiai beda zaman ini ternyata hanya ‘tergila-gila’ dengan seorang istri, bukan banyak istri.



Penulis adalah Wartawan Kombis Jawa Pos Radar Malang dan Redaktur Pelaksana Media Santri NU

Sumber : NU Online
http://www.nu.or.id/post/read/66470/dua-kiai-gila-beda-zaman

Tiga Jasa Besar Gus Dur untuk Indonesia (Oleh : Lukman Hakim Syaifudin/Mentri Agama)

Tiga Jasa Besar Gus Dur untuk Indonesia
Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifudin mengatakan, acara Haul ke-6 Gus Dur jadi momentum mengingat jasa mantan Ketua Umum PBNU yang fenomenal itu.
Setidaknya, kata Lukman, ada tiga jasa besar Presiden ke-4 Indonesia itu bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, Gus Dur mampu mengangkat pesantren sebagai entitas tersendiri.
“Pesantren bukan sekadar institusi tapi sebuah komunitas tersendiri yang memiliki nilai-nilai khas Indonesia. Maka di tahun 70-an Gus Dur mampu mengangkat dunia pesantren,” kata Lukman saat menghadiri Haul ke-6 Gus Dur di Komplek Al-Munawwaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (26/12/2015) malam.

Kedua, jasa Gus Dur adalah dengan mendamaikan hubungan Islam dengan Pancasila. “Jadi Gus Dur mampu memadukan umat Islam untuk bisa menerima pancasila tanpa ada setetes pun darah yang tumpah,” cerita Lukman.
Jasa Gus Dur yang ketiga, tukasnya, adalah keberhasilannya membuka pandangan bahwa kemajemukan adalah sebuah realitas di Indonesia.
“Bicara keberagaman dan pluralitas kita tak bisa pisahkan dengan Gus Dur. Ketiga jasa besar itu, karena pemahaman islam yang inklusif bukan ekslusif. Dia yang bicara islam memanusiakan manusia," tutup Lukman

Ditulis ulang oleh : Ayah Debay
Profile : https://www.facebook.com/liebedich.iev?fref=nf
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

Presiden Gus Dur The Untold Stories (Oleh : Priyo Sambadha, staf Istana Kepresidenan RI)

Pengalaman Pak Priyo Bersama Gus Dur dalam "Presiden Gus Dur The Untold Stories"
Sudah banyak buku yang membahas soal Gus Dur. Sisi pembahasannya pun beragam, seperti pemikirannya yang mencintai universalitas, kepemimpinannya dalam dunia politik dan pemerintahan, maupun bagaimana Gus Dur berkiprah bagi dunia Islam dan kebangsaan. Pembahasan-pembahasan soal Gus Dur yang walaupuan dilakukan terus menerus, tak pernah menyebabkan kebosanan. Justru sebaliknya, semakin lama dan banyak dibahas, semakin menarik. Orang yang semula tak kenal, apalagi yang terheran-heran dengan sosok Gus Dur, menjadi mahfum. Dan yang sudah kenal menjadi semakin cinta. Gus Dur tampaknya memendam simpanan kisah yang selalu tersedia untuk dibicarakan, menyimpan potensi cerita yang tak pernah habis untuk ditulis. Wajarlah bila setiap tahun berbagai judul buku dan tulisan Gus Dur dari banyak penulis, diterbitkan. Akhir 2014 lalu misalnya, “Presiden Gus Dur The Unthold Stories” terbitan Kepustakaan Populer Gramedia diluncurkan. Penulisnya, Priyo Sambadha, seorang staf Istana Kepresidenan RI, punya segudang kisah unik yang sengaja ia tuangkan dalam buku ini. Dalam buku ini, tentu saja Priyo yang telah berpengalaman selama 14 tahun sebagai staf Kepresidenan sejak era Presiden Soeharto, membeberkan pengalamannya selama Gus Dur menjadi Presiden. 

Dalam sambutannya pada acara Haul ke 5 Gus Dur di Ciganjur Jakarta Selatan akhir Desember 2014, Priyo menegaskan bahwa buku ini jauh dari pembahasasn politik kenegaraan. Padahal ia adalah ‘orang istana’ dan Gus Dur adalah seorang Presiden. Lalu apa yang Priyo kisahkan dalam bukunya? Diawali dengan Bab 1 “Kedatangan Presiden Baru di Istana” Priyo pun memulai ceritanya. Sore itu ia dan sejumlah staf Kepresidenan dan Paspampres, menyambut kedatangan Presiden dalam rangkaian acara yang ia pikir akan berlangsung kaku dan formal seperti penyambutan terhadap Presiden sebelumnya. Semua perangkat presiden tidak ada yang bersuara. Semua tegang menyambut presiden baru. Wartawan mulai memuntahkan amunisinya. Kilatan cahaya lampu blits mulai menghujani Presiden dan Ibu Negara.’ “Ayooo…. Cepat, buka dong pintunya! Seperti apa sih Presidennya?” teriak saya dalam hati. Beberapa saat kemudian yang terasa bagai seharian itu, saat yang dinanti pun tiba. Pintu mobil dibuka Paspampres dengan takzim. Darah saya berdesir lebih keras. Eeeng ing eeeng…!!! Taaraaaaa….!!!! Saya saksikan, seorang lelaki dengan perawakan gemuk duduk dengan santainya di jok mobil yang dilapis kulit pilihan. Posisi duduknya yang agak melorot membuat kemeja putih yang ia kenakan berlipat-lipat dibagian punggungnya. Tanpa jas, tanpa dasi. Ia lebih Nampak seperti pegawai atau karyawan pada umumnya. Bahkan saat itu ia langsung mengingatkan saya pada Pak RT di kampung yang sering tanding catur dengan saya.” (halaman 9) Cerita pun bergulir ke arah penyambutan yang tak seperti biasanya, karena kali ini berlangsung lebih cair. 

Justru ketegangan muncul dari para staf Kepresidenan yang selama ini membayangkan dan mengalami betapa formal, ribet dan repotnya acara penyambutan terhadap seorang Presiden, yang tidak terjadi pada acara penyambutan terhadap Presiden Gus Dur. Tidak ribet dan tidak formal yang boleh dialami oleh para staf Keprisidenan seperti saat penyambutan, juga biasa terjadi selama Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI. Seperti beberapa waktu kemudian, saat persiapan pengambilan foto Presiden yang berlangsung dengan ‘tantangan’. Disebutkan oleh Priyo acara pengambilan foto Presiden sudah disiapkan matang itu, menghadapi persoalan sederhana namun serius karena jas yang dikenakan Presiden tampak kusut. Ia dan putri Presiden, Yenny Wahid, sudah bahu membahu mengatasi kekusutan jas itu. Sampai tiba pada kesimpulan bahwa jas Presiden harus segera distrika. Seorang staf lalu pontang-panting mencari strika. Betapa menemukan strika di dalam istana bukanlah hal yang mudah. Beberapa menit Presiden harus menunggu. Priyo dan para staf menjadi panik. Untunglah strika itu ditemukan. Persoalan belum selesai, sebab kabel yang menghubungkan strika dengan listrik kurang panjang. Kabel sambungan harus didapatkan. Kembali staf Kepresidenan pontang-panting mencari kabel sambungan. Pun dengan waktu yang tak sebentar. Keadaan ini membuat Priyo dan semua staf menjadi semakin panik. Priyo menduga-duga Presiden pasti akan sangat marah dan para staf berhak atas hukuman yang berat. Masa Presiden disuruh menunggu strika dan sambungan kabel? Logika ini saja sudah membuat semua staf dihantui ketakutan. Tetapi dugaan dan ketakutan mereka sama sekali tak terbukti. Dengan sabar bahkan santai Presiden menunggu. Tidak mengeluh sedikit pun, tidak menyalahkan siapa pun. Walaupun para staf masih saja dilanda kepanikan. 

Setelah kabel sambungan itu ditemukan, saatnya bertanya: Siapa yang akan menyetrika? Para staf dan ajudan Presiden adalah para pria yang kurang biasa dengan urusan menyetrika. Sebelum ada perintah, Ratih Hardjono, Sekretaris Presiden mengajukan diri (halaman 35). Begitulah potongan kejadian yang diceritakan Priyo dalam bab 3 “Sesi Foto Resmi Kepresidenan”. Masih ada 6 bab lain dalam buku yang ditulis secara santai dan apa adanya ini. Cerita Presiden Gus Dur menundukkan para demonstran dalam Bab 2: “Presiden Terima Demonstran,” Kisah Priyo memakan roti Presiden dalam Bab 4: “ Cerita dalam sepotong Roti, Presiden menyambut kunjungan berbagai kalangan dalam Bab 5: “Istana Rakyat”. Kemeriahan atau keakraban keluarga Gus Dur dalam Bab 6: “Suasana Baru di Istana.” Gaya kepemimpinan Gus Dur yang diwarnai banyak irama dalam bab 8: “Simfoni nomer 9”. 

Dalam buku ini, sesuai dengan judulnya mengupas hal-hal yang sangat jarang diketahui oleh masyarakat bahkan para wartawan. Kejadian-kejadian unik dikisahkan dengan menarik oleh Priyo selama menjadi orang dekat Presiden. Mungkin karena kedekatan itu pula-lah, Priyo dalam bab 7 “Wali allah”, menceritakan pertanyaannya kepada Gus Dur, perihal apakah Gus Dur itu wali. Selama ini Priyo telah tahu bahwa banyak orang yang menganggap Gus Dur adalah seorang wali. Dan Priyo sangat tahu bahwa wali yang sebenarnya tidak akan mengatakan kepada orang awam tentang kewaliannya. Saking penasarannya, Priyo memberanikan diri secara langsung kepada Gus Dur. Saat itu beberapa tahun setelah Gus Dur telah turun dari jabatan Presiden. Priyo menemani Gus Dur yang sedang dirawat di rumah sakit. Dengan hati-hati, Priyo mengajukan pertanyaannya yang diucapkan dalam bahasa Jawa: “Gus, banyak orang percaya bahwa Anda itu seorang wali. Mohon maaf, benarkah itu?” Mendengar pertanyaan saya yang sensitife itu, Gus Dur mendadak terdiam sejenak. Waduh, jangan-jangan telah berani lancangaku ini! “Sampeyan bener mau tahu Mas….?” Jawab Gus Dur serius. “Nyuwun duko, inggih Gus atau: Maaf, iya Gus,” jawab saya lirih dan ragu. Sesaat kemudian, keluar jawaban Gus Dur yang langsung dan to the point. “Iya Mas, itu bener….” Tegas Gus Dur dengan pelan namun mantap. Wajahnya tetap mghadap langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna pucat. Mungkin sepucat wajah saya saat itu. Hening…. Ya allah, merinding seluruh badan saya. Dada saya sesaat terasa sesak. Lidah saya kelu. Tiba-tiba Gus Dur menyambung lagi. “Saya memang wali. Wali murid! Hehehe…” (halaman 124) Maka begitulah Presiden Gus Dur The Untold Stories karangan Priyo Sembadha sekali lagi melengkapi pemahaman kita tentang sosok Gus Dur.

Diceritakan kembali oleh : Ayahnya Debay
Profile : 
https://www.facebook.com/groups/1610216669215200/permalink/1751409748429224/
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

Cerita Gus Dur dikejar-kejar polisi di era Orde Baru.(Oleh:Ayah Debay)

Cerita Gus Dur dikejar-kejar polisi di era Orde Baru.

Tak akan ada habisnya jika bercerita soal Gus Dur . Presiden RI keempat ini punya segudang cerita yang tak habis dibicarakan oleh para pengagumnya.
Salah satunya ketika Gus Dur dikejar-kejar oleh polisi di Era Orde Baru. Kisah Gus Dur dikejar-kejar polisi itu diceritakan kembali oleh Muhammad AS Hikam dalam bukunya berjudul ' Gus Dur Ku, Gus Dur Anda dan Gus Dur Kita'. Hikam tidak ingat persis kapan hal itu terjadi tetapi kejadian itu terjadi di akhir rezim Orde Baru.
Saat itu Gus Dur diundang untuk menjadi pembicara oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Jombang. Saat itu aparat keamanan sudah ditugasi untuk membuat gagal acara atau minimal membuat jalannya ceramah menjadi kurang baik.
"Toh acara tetap berjalan dan ceramah Gus Dur didengar banyak aktivis GMNI dan lainnya. Begitu selesai acara, Gus Dur diminta panitia untuk segera pergi meninggalkan lokasi acara," tulis Hikam dalam bukunya tersebut yang dikutip merdeka.com, Senin (2/12).
Setelah Gus Dur meninggalkan lokasi, polisi pun langsung membubarkan acara diskusi tersebut. Para aktivis pun diminta bubar, namun Gus Dur sudah langsung meluncur ke arah Surabaya.
Namun ketika di dalam Kota Jombang, mobil Gus Dur dibuntuti dua motor gede yang ditunggangi anggota polisi. Meski demikian kedua motor gede itu tidak membunyikan sirinenya.
"Gus Dur dilapori sopirnya dan beliau minta supaya jalan saja kalau perlu ngebut," tulis Hikam di halaman 5 buku tersebut.
Namun ternyata kedua polisi yang membuntuti Gus Dur juga tidak kalah. Mereka berdua memacu kuda besinya untuk mengejar mobil yang ditumpangi Gus Dur .
Setelah berada di luar kota, kedua motor gede itu berhasil menyalip mobil Gus Dur . Motor itu berhenti setelah agak jauh menyalip lalu berhenti di tengah jalan dan menghentikan mobil Gus Dur .
Hal itu sontak membuat sopir Gus Dur mengerem mendadak untuk menghindari kecelakaan. Gus Dur pun marah besar dan membuka kaca mobil sembari menunggu kedua polisi itu mendatangi beliau.
"Ada apa?," tanya Gus Dur dengan nada tinggi.
"Assalamualaikum Kyai," ujar salah seorang polisi tersebut menyapa Gus Dur yang sudah dalam kondisi marah.
"Ya, saya kan sudah pergi. Sana pergi kalian...," ujar Gus Dur mencoba mencegah kedua polisi itu mendekat.
"Begini Kyai..." kata anggota polisi tersebut begitu sampai di kaca jendela. Saat itu sopir dan dua penumpang mobil lainnya sudah sangat khawatir.
"Begini Kyai, mohon maaf saya tadi belum sempat salaman sama njenengan, jadi terpaksa saya mengikuti Kyai. Tolong Kyai, saya ingin salaman," kata anggota polisi tersebut.
Kedua polisi itu pun lalu bersalaman dan mencium tangan Gus Dur . Setelah itu kedua polisi itu langsung tersenyum cengengesan karena berhasil salaman dengan Gus Dur .
"Dan tentu saja Gus Dur langsung ketawa ngakak segitu mobil kembali kembali jalan termasuk As Hikam yang berada di mobil tersebut.
"Ngono kuwi lo, Kang wong NU. Sudah repot-repot disuruh menjaga supaya ceramah tidak sukses, eee... ujung-ujungnya pengen salaman," ujar Gus Dur.

Ditulis ulang oleh : Ayah Debay
Profile : https://www.facebook.com/liebedich.iev?fref=nf
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

Tanggal Lahir Gus Dur (Oleh : Ayah Debay)

Tanggal Lahir Gus Dur
Oleh : Ayah Debay

Tiga belas tahun lalu, tepatnya Jumat, 4 Agustus 2000, Gus Dur yang waktu itu menjabat sebagai presiden RI ke-4 menerima ucapan selamat ulang tahun dari kerabat dan kawan-kawannya di Istana Bogor, Jawa Barat.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ulang tahun Gus Dur memang selalu diperingati pada tanggal itu. Padahal, sebenarnya tanggal lahir Gus Dur salah, bukan 4 Agustus 1940.
Lalu kenapa tanggal lahir Gus Dur bisa salah? Greg Barton, penulis Biografi Abdurrahman Wahid--nama panjang Gus Dur , mengatakan sebenarnya presiden ke-4 RI itu dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Namun tanggal lahir Gus Dur itu berdasar pada kalender Islam, yakni bulan kedelapan maksudnya adalah Sya'ban.
Dengan demikian, sebenarnya dia dilahirkan pada 4 Sya'ban 1359 Hijriyah, yang sebenarnya dalam kalender Masehi tepat pada Sabtu, 7 September 1940. Dia dilahirkan di rumah kakek dari pihak ibunya, Kiai Bisri Syansuri, pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Ternyata ada kisah lucu dibalik kesalahan tanggal lahir Gus Dur ini. Guyonan lucu ketika Gus Dur lupa dengan tanggal lahirnya, ini kini popular pagi para pencinta Gus Dur atau Gusdurian. Konon, guyonan ini dilontarkan sendiri oleh Gus Dur .
Begini kisahnya, sewaktu kecil, saat dia mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah SD di Jakarta, Gus Dur ditanya oleh gurunya, "Namamu siapa Nak?"
"Abdurrahman," jawab Gus Dur .
"Tempat dan tanggal lahir?"
"Jombang ," jawab Gus Dur sambil terdiam beberapa saat.
"Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940," lanjutnya.
Gus Dur agak ragu sebab dia menghitung dulu bulan kelahirannya. Gus Dur hanya hafal bulan Komariahnya, yaitu hitungan berdasarkan perputaran bulan. Dia juga tidak ingat bulan Syamsiahnya atau hitungan berdasarkan perputaran matahari.
Yang Gus Dur maksud, dia lahir bulan Sya'ban, bulan kedelapan dalam hitungan Komariah. Tetapi gurunya menganggap Agustus, yaitu bulan delapan dalam hitungan Syamsiah. Maka sejak itu lah dia dianggap lahir pada 4 Agustus 1940. Padahal sebenarnya dia lahir pada 4 Sya'ban 1359 Hijriah atau 7 September 1940.
Karena tidak mau repot repot, Gus Dur tidak pernah menggantinya. Karena memang motto Gus Dur "Gitu aja kok repot".

Ditulis kembali oleh : Ayah Debay

Profile : https://www.facebook.com/liebedich.iev?fref=nf
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

Ditolak, Pahlawan Nasional untuk Gus Dur dari SBY (Oleh :Ayah Debay)

Ditolak, Pahlawan Nasional untuk Gus Dur dari SBY.
Adhie Massardi yang bertahun-tahun mendampingi Abdurrahman Wahid, baik saat Gus Dur masih menjadi presiden untuk masa yang singkat (1999-2001) maupun setelah keluar dari istana hingga akhir hayatnya, menolak gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur.
Apalagi kalau yang memberikan gelar pahlawan nasional itu adalah pemerintahan SBY.
Kepada Rakyat Merdeka Online, mantan jurubicara presiden itu mengatakan, bahwa nama baik Gus Dur harus dibersihkan. Harus ada kepastian politik yang menegaskan Gus Dur sama sekali tidak terlibat dalam kasus dana Yanatera Bulog sebesar Rp 3,5 miliar dan bantuan Sultan Brunei senilai Rp 14 miliar seperti yang dituduhkan lawan-lawan politik Gus Dur tahun 2001. Pansus Buloggate yang dibentuk DPR pun sama sekali tidak menyelesaikan tugas hingga skandal itu terbongkar. Sementara Kejaksaan Agung yang memeriksa kasus itu sama sekali tidak menemukan keterlibatan Gus Dur.
Tetapi MPR yang dikuasai oleh lawan-lawan Gus Dur ketika itu menggelar SI MPR dan menjatuhkan kartu merah kepadanya setelah Gus Dur mengeluarkan dekrit yang membekukan DPR/MPR, mempercepat Pemilu dan membubarkan Golkar. Padahal, kata Adhie lagi, dekrit itu dikeluarkan karena Gus Dur sudah mencium gelagat makar yang dilakukan oleh pimpinan Parpol dengan menggunakan parlemen. Pimpinan Parpol yang dimotori Amien Rais sempat menggelar pertemuan di kediaman Megawati Soekarnoputri di Lenteng Agung.
Kalau pun kedua hal di atas bisa dilakukan, sambung Adhie, dia ogah kalau yang memberikan gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur adalah pemerintahan SBY. Pemerintahan yang pantas memberikan gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur, demikian Adhie, adalah pemerintahan yang memiliki legitimasi moral dan tidak korup.

Ditulis kembali oleh : Ayah Debay
Profile : https://www.facebook.com/liebedich.iev?fref=nf
Anggota Grup Sahabat Gus Dur