Di tengah aku bicara itu, tiba-tiba, pikiranku kembali melayang-layang dan menemukan cerita seorang kawan tentang kisah Gus Dur masak sop ceker dan jeroan ayam. Aku tak tahu apakah ini benar atau humor saja. Tetapi aku mencoba membayangkan sendiri, aku menanyakan hal itu kepada Gus Mus.
”Gus Mus, saya dengar dari cerita seorang teman, saat di Kairo, GD pernah masak sop ceker, ”sewiwi” (sayap), kepala dan jeroan ayam, ya?”.
Gus Mus tertawa terkekeh-kekeh. Beliau tak menjawab. Tetapi aku mengulangi saja cerita itu.
”Konon begini, Gus. Suatu hari Gus Dur bilang mau memasak sop istimewa untuk makan malam bersama teman-temannya.”
Sorenya dia pergi sendiri ke pasar. Di sana dia mencari penjual ayam potong dan meminta ceker, sayap, kepala dan jeroan. GD tahu bagian-bagian tubuh ayam biasanya akan dibuang saja. Jadi bisa gratis.
Penjual ayam potong itu bertanya, untuk apa, ya sayyidi?. Gus Dur menjawab spontan, ”Untuk makanan kucing di rumah."
Ia menyembunyikan keinginannya untuk tertawa sendiri.
”Lakin Inta ta’khudz Kitir Awi” (Tapi anda kok mintanya banyak sekali)”.
”'Aiwah, alasyan Itat Kitsir awi' (ya, karena kucingnya banyak sekali),"jawab Gus Dur dengan kalem dan tidak ketawa.
Gus Dur kemudian pulang membawa semua bagian-bagian tubuh ayam tersebut, lalu memasaknya. Kemudian teman-temannya dipanggil untuk ”mayoran” (pesta makan enak).
Saat mereka mengetahu apa yang dimasak GD ltu kaki, sayap kepala dan jeroan ayam, mereka bertanya,”Bagaimana sampeyan bisa mendapatkan ini, kok bisa, Gus?. Bagaimana sampeyan bilang kepada penjualnya?"
GD menjawab dengan tenang.”Aku katakan,'ini untuk kucing' Ha ha ha."
Semua tertawa terbahak-bahak, sambil menikmati makan enak masakan ala Gus Dur.
Mendengar cerita itu Gus Mus, tertawa terkekeh-kekeh. Aku juga.
”Gus, saat di sana, saya juga sering dan suka masak ceker, sayap, kepala dan jeroan ayam itu”.
Tetapi pada zaman saya, semua bagian-bagian yang dianggap tak berharga itu tidak lagi gratis. Aku terpaksa membayar, meski sangat murah. Rupanya para penjualnya sudah tahu, barang-barang itu bukan untuk kucing, tapi dimakan untuk manusia”.
Ha ha ha, kami berdua tertawa terbahak-bahak lagi.
Itu yang aku dengar dari teman beberapa waktu lalu, Gus.
Gus Mus masih tertawa kecil. Dan aku meneruskan cerita.
”Tapi saya dengar dari kawan lain bahwa saat itu Gus Mus ikut makan dan menikmati masakan Sop ala Gus Dur itu. Katanya yang dibeli Gus Dur itu bukan untuk makanan kucing, tapi anjing.
Lalu kawan itu menambahkan ceritanya begini,'Ketika beberapa waktu kemudian Gus Dur pindah ke Bagdad, Irak, Gus Mus mencoba meniru Gus Dur, masak sop yang sama. Sampai di tempat, penjual potong ayam itu bertanya, kok lama sekali kalian ngga ke sini, anjingnya bagaimana?'”.
Gus Mus menjawab seenaknya saja, ”Rayih ila Bagdad (Sudah pindah ke Bagdad)."
Kali ini Gus Mus dan aku meneruskan tertawa kerasnya. Kali ini lebih panjang, karena di samping cerita itu lucu, juga jawaban tidak sesuai pertanyaan.
Gus Mus salah dengar, mengira penjual potong ayam itu bertanya, di mana temanmu itu?, padahal ”bagaimana anjingnya?”. Ha ha ha ha.
Dikutip dari : NU.online
Rabu, 06 Juli 2016
Disuruh Jegal Gus Dur Malah Jadi Sahabat (Oleh:Luhut Binsar Panjaitan)
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan banyak mendapat pelajaran dari Presiden Republik Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Dipenuhi senda gurau, saat menghadiri haul keenam Gus Dur di Jakarta, Luhut membuka kisah tentang peran mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama di balik kariernya di pemerintahan. Gara-gara Gus Dur lah, bintang Luhut bersinar.
Luhut mengenal Gus Dur dari Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata RI Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani. "Saya kenal dari Pak Benny. Saat itu saya masih letnan kolonel. Gus Dur pakai kacamata, tapi dia masih bisa melihat dengan baik," ujar Luhut.
Beberapa waktu setelah pertemuan pertama Luhut dan Gus Dur itu, pada tahun 1994 instruksi pejabat-pejabat tinggi Orde Baru mempertemukan Luhut dan Gus Dur lagi.
Luhut kala itu berstatus sebagai Komandan Komando Resort Militer 081/Dhirotsaha Jaya di Madiun, Jawa Timur. Dia diperintahkan untuk menghambat langkah Gus Dur terpilih menjadi Ketua Umum PBNU.
Perintah itu sekadar perintah. Upaya pemerintah Orde Baru menjegal Gus Dur gagal. Sebabnya, ternyata petinggi-petinggi militer ketika itu juga memiliki latar belakang NU.
Lihat juga:40 Tahun Penerjunan di Dili, Luhut Kembali ke Markas Kopassus
Satu cerita lain yang tak dapat dilupakan Luhut adalah permintaan Gus Dur kepadanya agar tidak menerima tawaran menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura pada tahun 1999. Alasannya, Gus Dur mengatakan dia dalam waktu dekat akan menjadi presiden menggantikan BJ Habibie. Gus Dur rupanya ingin mengangkat Luhut sebagai menteri.
"Saya diundang buka puasa di dekat Kramat Jati, Jakarta. Masih 15 menit sebelum berbuka. Dia (Gus Dur) bicara dan tertawa, bilang saya tidak usah berangkat jadi Dubes karena dia sebentar lagi akan jadi presiden," kata Luhut.
Kepada Luhut, Gus Dur mengatakan mendapat bisikan tentang masa depannya sebagai orang nomor satu Indonesia. Luhut pun mengiyakan pernyataan Gus Dur.
"Saya tidak mau jadi musuhnya. Padahal dalam hati saya berkata, 'Suka-sukamulah,'" ujar Luhut sambil tertawa.
Luhut berkata, dia tidak mungkin menerima saran Gus Dur itu dengan menolak ditugaskan sebagai Duta Besar RI untuk Singapura.
Lihat juga:Cak Imin: Berkat Gus Dur, Takmir Masjid Bisa Jadi Menteri
Selanjutnya saat Luhut bertugas sebagai Dubes di Singapura, Gus Dur menyatakan kekagumannya terhadap mantan Komandan Pendidikan dan Latihan TNI AD itu kepada sejumlah warga negara Indonesia dari kalangan ekonomi kelas atas.
"Gus Dur bilang, saya terlalu overqualified jadi dubes. Dia katakan bulan depan akan jadi presiden," ujar Luhut.
Pujian atas Luhut kembali disampaikan Gus Dur pada pertemuan pengusaha-pengusaha ternama seperti pendiri Sinar Mas Grup, Eka Tjipta Widjaja, dan pendiri Salim Grup, Liem Sioe Liong.
"Gus Dur bilang bulan depan dia akan menjadi presiden. Saya lemas. Matilah saya. Logika saya, dari mana rumusnya dia bisa menjadi presiden. Tidak mungkinlah," kata Luhut, kala itu masih menganggap ucapan-ucapan Gus Dur tak mungkin terjadi.
Namun Oktober 1999, bisikan yang diterima Gus Dur menjadi kenyataan. Dia menjadi presiden setelah mengalahkan Megawati Soekarnoputri pada pemilihan yang digelar MPR.
Hampir setahun setelah Gus Dur terpilih menjadi presiden, Luhut menyelesaikan tugasnya sebagai Dubes RI untuk Singapura. Agustus tahun 2000, Luhut pun diangkat Gus Dur sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
Pada tahun yang sama, Gus Dur menaikkan pangkat Luhut dari Letnan Jenderal menjadi Jenderal Kehormatan.
"Gus Dur tidak pernah berubah. Banyak tindakannya merupakan panutan yang hebat," kata Luhut.
Gus Dur, orang yang semula diperintahkan kepada Luhut untuk ia jegal, ternyata justru menjadi sahabatnya.
Dikutip dari : CNN Indonesia
Dipenuhi senda gurau, saat menghadiri haul keenam Gus Dur di Jakarta, Luhut membuka kisah tentang peran mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama di balik kariernya di pemerintahan. Gara-gara Gus Dur lah, bintang Luhut bersinar.
Luhut mengenal Gus Dur dari Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata RI Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani. "Saya kenal dari Pak Benny. Saat itu saya masih letnan kolonel. Gus Dur pakai kacamata, tapi dia masih bisa melihat dengan baik," ujar Luhut.
Beberapa waktu setelah pertemuan pertama Luhut dan Gus Dur itu, pada tahun 1994 instruksi pejabat-pejabat tinggi Orde Baru mempertemukan Luhut dan Gus Dur lagi.
Luhut kala itu berstatus sebagai Komandan Komando Resort Militer 081/Dhirotsaha Jaya di Madiun, Jawa Timur. Dia diperintahkan untuk menghambat langkah Gus Dur terpilih menjadi Ketua Umum PBNU.
Perintah itu sekadar perintah. Upaya pemerintah Orde Baru menjegal Gus Dur gagal. Sebabnya, ternyata petinggi-petinggi militer ketika itu juga memiliki latar belakang NU.
Lihat juga:40 Tahun Penerjunan di Dili, Luhut Kembali ke Markas Kopassus
Satu cerita lain yang tak dapat dilupakan Luhut adalah permintaan Gus Dur kepadanya agar tidak menerima tawaran menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura pada tahun 1999. Alasannya, Gus Dur mengatakan dia dalam waktu dekat akan menjadi presiden menggantikan BJ Habibie. Gus Dur rupanya ingin mengangkat Luhut sebagai menteri.
"Saya diundang buka puasa di dekat Kramat Jati, Jakarta. Masih 15 menit sebelum berbuka. Dia (Gus Dur) bicara dan tertawa, bilang saya tidak usah berangkat jadi Dubes karena dia sebentar lagi akan jadi presiden," kata Luhut.
Kepada Luhut, Gus Dur mengatakan mendapat bisikan tentang masa depannya sebagai orang nomor satu Indonesia. Luhut pun mengiyakan pernyataan Gus Dur.
"Saya tidak mau jadi musuhnya. Padahal dalam hati saya berkata, 'Suka-sukamulah,'" ujar Luhut sambil tertawa.
Luhut berkata, dia tidak mungkin menerima saran Gus Dur itu dengan menolak ditugaskan sebagai Duta Besar RI untuk Singapura.
Lihat juga:Cak Imin: Berkat Gus Dur, Takmir Masjid Bisa Jadi Menteri
Selanjutnya saat Luhut bertugas sebagai Dubes di Singapura, Gus Dur menyatakan kekagumannya terhadap mantan Komandan Pendidikan dan Latihan TNI AD itu kepada sejumlah warga negara Indonesia dari kalangan ekonomi kelas atas.
"Gus Dur bilang, saya terlalu overqualified jadi dubes. Dia katakan bulan depan akan jadi presiden," ujar Luhut.
Pujian atas Luhut kembali disampaikan Gus Dur pada pertemuan pengusaha-pengusaha ternama seperti pendiri Sinar Mas Grup, Eka Tjipta Widjaja, dan pendiri Salim Grup, Liem Sioe Liong.
"Gus Dur bilang bulan depan dia akan menjadi presiden. Saya lemas. Matilah saya. Logika saya, dari mana rumusnya dia bisa menjadi presiden. Tidak mungkinlah," kata Luhut, kala itu masih menganggap ucapan-ucapan Gus Dur tak mungkin terjadi.
Namun Oktober 1999, bisikan yang diterima Gus Dur menjadi kenyataan. Dia menjadi presiden setelah mengalahkan Megawati Soekarnoputri pada pemilihan yang digelar MPR.
Hampir setahun setelah Gus Dur terpilih menjadi presiden, Luhut menyelesaikan tugasnya sebagai Dubes RI untuk Singapura. Agustus tahun 2000, Luhut pun diangkat Gus Dur sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
Pada tahun yang sama, Gus Dur menaikkan pangkat Luhut dari Letnan Jenderal menjadi Jenderal Kehormatan.
"Gus Dur tidak pernah berubah. Banyak tindakannya merupakan panutan yang hebat," kata Luhut.
Gus Dur, orang yang semula diperintahkan kepada Luhut untuk ia jegal, ternyata justru menjadi sahabatnya.
Dikutip dari : CNN Indonesia
Debat Gus Dur dan Cak Nur Tentang Sandal Jepit (Oleh :Soerawi,IAIN Sunan Ampel,Surabaya)
Meski sama-sama pemikir pembaharu, pelakat umum yang dipasangkan banyak pihak kepada keduanya berbeda: Gus Dur tradisionalis, Cak Nur modernis. Banyak pihak menilai keduanya berbeda cara pandang dalam hal apapun karena dilatari oleh perbedaan kultur akademik dan muasal ilmu yang mereka ceruk.
Banyak cerita soal perdebatan sengit antara Gus Dur dan Cak Nur kala keduanya satu panggung dalam satu forum keilmuan. Di antaranya saat Gus Dur dan Cak Nur diundang mahasiswa Fakultas Ushuludin IAIN (kini UIN) Sunan Ampel Surabaya, awal tahun 1980-an.
"Waktu itu Gus Dur masih belum pengurus PBNU. Gus Dur hadir pakai sarung sendalan jepit, Cak Nur pakai celana rapi," kata Soerawi, akademisi sekaligus bekas pegawai Bagian Akademik Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, ditemui di rumahnya, di Jalan Jemur Wonosari Surabaya, Sabtu, 26 Desember 2015.
Soerawi ikut nimbrung di seminar yang dinarasumberi Gus Dur dan Cak Nur itu. Dua pemikir muslim itu, kata pria yang bertugas di IAIN sejak tahun 1967 itu, 'kuat-kuatan' argumentasi tentang pemikiran Islam dalam konteks ke-Indonesia-an. Sesekali debat sengit terjadi antara keduanya. Tapi sesekali pula canda mencampuri.
Yang menarik, lanjut Soerawi, kala Gus Dur dan Cak Nur berbeda pandangan tentang bagaimana seharusnya bersikap terhadap pemerintahan, yang saat itu masih dipimpin oleh Presiden Soeharto. Perdebatan terjadi bahkan dalam hal kecil, soal cara berbusana ketika bertemu dengan pejabat pemerintahan.
"Waktu itu Cak Nur bilang, 'kalau menghadap pejabat harus memakai celana dan rapi'. Tapi Gus Dur menimpali, 'kalau menghadap atasan pejabat, saya enggak masalah pakai sarung dan sendal jepit'," cerita Soerawi mengulang ucapan Gus Dur dan Cak Nur saat itu.
Gus Dur tak dikenali karena pakai sendal jepit
Soal sendal jepit, Soerawi punya cerita lain tentang Gus Dur dari temannya yang pernah mengundang Gus Dur mengisi seminar. Waktu itu, masih tahun 1980-an, Presiden RI ke-empat itu diundang mengisi seminar oleh aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. "Dari Jakarta Gus Dur ke Malang naik kereta api," ujarnya.
Menjelang jadwal kereta tiba, panitia seminar yang masih semester belia datang ke stasiun untuk menjemput Gus Dur. Begitu kereta tiba, panitia mencari Gus Dur di tengah gerombolan orang yang turun dari kereta. "Panitia tak menemukan Gus Dur turun," kata Soerawi.
Ternyata, panitia silap. Gus Dur sebenarnya sudah turun dari kereta dan melewati panitia yang mencarinya. Gus Dur mendengar pembicaraan panitia yang menjemputnya. "Gus Dur dengar panitia yang bilang dia tidak datang. Karena tidak ketemu di stasiun," kata Soerawi.
Gus Dur akhirnya naik becak dari stasiun ke kampus Unibraw. "Sampai di tempat seminar, Gus Dur cerita kejadian di stasiun ke panitia. Dia bilang, mungkin karena pakai sendal jepit dan peci, panitia yang menjemput tidak mengenal. Karena tidak berpantalon rapi," kata Soerawi sembari tersenyum.
Malam ini, Sabtu, 26 Desember 2015, haul Gus Dur digelar di Ciganjur dan kompleks Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Di Jombang, Wakil Presiden Jusuf Kalla dijadwalkan hadir di acara haul ke-enam mantan Ketum PBNU dan Presiden ke-empat Republik Indonesia itu.
Ramalan Gus Dur Pada Ahok (Oleh:Imam Nahrawi,Menpora)
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mendatangi Balaikota DKI Jakarta untuk bertemu dengan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dalam kesempatan itu, Imam melakukan pertemuan tertutup dengan Ahok.
Setelah 10 menit berselang, Imam pun kemudian terlihat keluar dari ruang tempat pertemuan tersebut dilakukan. Politisi PKB itu mengaku kedatangannya untuk bersilaturahmi dan mengucapkan selamat atas dilantiknya Ahok sebagai Gubernur pada 19 November.
"Tadi saya rapat di Istana bersama seluruh kementerian dan pemerintah daerah. Kemudian karena jaraknya begitu dekat dengan Balaikota, saya harus mampir ke sini. Karena sejak beliau dilantik menjadi Gubernur DKI, saya belum mengucapkan selamat, kecuali waktu di Istana pas pelantikan," ujar Imam, Senin (8/12/2014).
Sebagai seorang Gusdurian atau pengikut Gus Dur, Imam bercerita, jabatan gubernur yang diemban Ahok selama ini telah diprediksi Gus Dur beberapa tahun lalu.
Menurut Imam, kala itu, Gus Dur sesumbar, Ahok yang berasal dari suku dan keyakinan minoritas di Indonesia kelak akan menjadi seorang gubernur di suatu wilayah.
"Sebagai orang sahabat dan orang yang disebut-sebut Gus Dur waktu itu, bakal jadi Gubernur DKI, saya tentu harus mengucapkan selamat. Karena sebelum beliau jadi Gubernur, Gus Dur sudah pernah bilang, Pak Ahok akan jadi Gubernur. Nah ini cita-cita Gus Dur kesampaian," ucap politisi PKB itu.
Mendengar ucapan Imam, Ahok tak membantahnya. Ahok mengiyakan kalau presiden ke-4 itu pernah meramalnya akan menjabat gubernur. Dan, ucapan Gus Dur pun menjadi kenyataan.
"Jadi cita-cita Gus Dur kesampaian. Teman-teman yang bantu nyalonin aku dulu nih pada kesampaian deh," ucap Ahok tersenyum.
Cerita Ahok Jual Nama Gus Dur
Ahok sebelumnya pernah bercerita mengenai peran sosok Gus Dur yang selalu membelanya, kala orang lain mendiskriminasikannya. Cerita tersebut dimulai ketika Ahok saat itu memutuskan untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Bangka Belitung belasan tahun silam.
"Waktu itu saya mundur sebagai Bupati Belitung Timur karena saya mau mencalonkan diri sebagai Gubernur Bangka Belitung," ujar Ahok dalam testimoninya dalam acara Haul ke-4 Gus Dur di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan beberapa bulan lalu.
Sebagai minoritas, tentu sulit bagi Ahok mendapat dukungan. Apalagi di Bangka Belitung mayoritas adalah Islam. Namun, ia justru mendapat dukungan penuh dari Gus Dur untuk maju.
"Tidak ada partai yang mau dukung saya," ujar Ahok.
Dukungan dari Gus Dur itu bermula saat Ahok bertemu dengan putri Gus Dur, Yenny Wahid untuk membicarakan mengenai keinginannya mencalonkan diri sebagai calon gubernur. Lalu Ahok juga bertemu dengan Muhaimin Iskandar juga untuk membicarakan apakah Gus Dur mau mendukungnya maju sebagai cagub.
"Waktu itu Muhaimin bilang, mana mungkin Gus Dur mau mendukung kamu," kenang Ahok menirukan ucapan Muhaimin.
Namun, Ahok mengaku tak patah arang. Ia memberanikan diri untuk bertemu dengan Gus Dur dan memaparkan program-program yang dicanangkan jika terpilih sebagai gubernur. Kala itu, Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden RI.
"Saya diskusi dan bilang saya mau adakan pensiun pertama di Bangka Belitung. Lalu Gus Dur tertarik," ucap Ahok.
Meski warga Bangka Belitung menentang keras dukungan Gus Dur terhadap Ahok. Karena dianggap mendukung seorang 'kafir'. Namun, Gus Dur meminta agar Ahok tak memedulikan hal itu.
"Saya jual nama Gus Dur, saya bilang saya sudah dapat restu dari Gus Dur. Tapi tetap saja, sampai Gus Dur dibilang kiai palsu," kata dia.
"Gus Dur meminta saya membiarkan hal tersebut. Mereka tidak mengerti Alquran, kata Gus Dur, Islam tidak seperti itu," ucap Ahok menirukan Gus Dur.
Ditulis ulang dari Liputan 6
Setelah 10 menit berselang, Imam pun kemudian terlihat keluar dari ruang tempat pertemuan tersebut dilakukan. Politisi PKB itu mengaku kedatangannya untuk bersilaturahmi dan mengucapkan selamat atas dilantiknya Ahok sebagai Gubernur pada 19 November.
"Tadi saya rapat di Istana bersama seluruh kementerian dan pemerintah daerah. Kemudian karena jaraknya begitu dekat dengan Balaikota, saya harus mampir ke sini. Karena sejak beliau dilantik menjadi Gubernur DKI, saya belum mengucapkan selamat, kecuali waktu di Istana pas pelantikan," ujar Imam, Senin (8/12/2014).
Sebagai seorang Gusdurian atau pengikut Gus Dur, Imam bercerita, jabatan gubernur yang diemban Ahok selama ini telah diprediksi Gus Dur beberapa tahun lalu.
Menurut Imam, kala itu, Gus Dur sesumbar, Ahok yang berasal dari suku dan keyakinan minoritas di Indonesia kelak akan menjadi seorang gubernur di suatu wilayah.
"Sebagai orang sahabat dan orang yang disebut-sebut Gus Dur waktu itu, bakal jadi Gubernur DKI, saya tentu harus mengucapkan selamat. Karena sebelum beliau jadi Gubernur, Gus Dur sudah pernah bilang, Pak Ahok akan jadi Gubernur. Nah ini cita-cita Gus Dur kesampaian," ucap politisi PKB itu.
Mendengar ucapan Imam, Ahok tak membantahnya. Ahok mengiyakan kalau presiden ke-4 itu pernah meramalnya akan menjabat gubernur. Dan, ucapan Gus Dur pun menjadi kenyataan.
"Jadi cita-cita Gus Dur kesampaian. Teman-teman yang bantu nyalonin aku dulu nih pada kesampaian deh," ucap Ahok tersenyum.
Cerita Ahok Jual Nama Gus Dur
Ahok sebelumnya pernah bercerita mengenai peran sosok Gus Dur yang selalu membelanya, kala orang lain mendiskriminasikannya. Cerita tersebut dimulai ketika Ahok saat itu memutuskan untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Bangka Belitung belasan tahun silam.
"Waktu itu saya mundur sebagai Bupati Belitung Timur karena saya mau mencalonkan diri sebagai Gubernur Bangka Belitung," ujar Ahok dalam testimoninya dalam acara Haul ke-4 Gus Dur di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan beberapa bulan lalu.
Sebagai minoritas, tentu sulit bagi Ahok mendapat dukungan. Apalagi di Bangka Belitung mayoritas adalah Islam. Namun, ia justru mendapat dukungan penuh dari Gus Dur untuk maju.
"Tidak ada partai yang mau dukung saya," ujar Ahok.
Dukungan dari Gus Dur itu bermula saat Ahok bertemu dengan putri Gus Dur, Yenny Wahid untuk membicarakan mengenai keinginannya mencalonkan diri sebagai calon gubernur. Lalu Ahok juga bertemu dengan Muhaimin Iskandar juga untuk membicarakan apakah Gus Dur mau mendukungnya maju sebagai cagub.
"Waktu itu Muhaimin bilang, mana mungkin Gus Dur mau mendukung kamu," kenang Ahok menirukan ucapan Muhaimin.
Namun, Ahok mengaku tak patah arang. Ia memberanikan diri untuk bertemu dengan Gus Dur dan memaparkan program-program yang dicanangkan jika terpilih sebagai gubernur. Kala itu, Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden RI.
"Saya diskusi dan bilang saya mau adakan pensiun pertama di Bangka Belitung. Lalu Gus Dur tertarik," ucap Ahok.
Meski warga Bangka Belitung menentang keras dukungan Gus Dur terhadap Ahok. Karena dianggap mendukung seorang 'kafir'. Namun, Gus Dur meminta agar Ahok tak memedulikan hal itu.
"Saya jual nama Gus Dur, saya bilang saya sudah dapat restu dari Gus Dur. Tapi tetap saja, sampai Gus Dur dibilang kiai palsu," kata dia.
"Gus Dur meminta saya membiarkan hal tersebut. Mereka tidak mengerti Alquran, kata Gus Dur, Islam tidak seperti itu," ucap Ahok menirukan Gus Dur.
Ditulis ulang dari Liputan 6
Banyolan Gus Dur Setelah Lengser (Oleh : M Haromain, Wonosobo)
Di antara sikap dan karakter Gus Dur yang mengagumkan adalah kesabaran dan ketabahannya saat ditimpa musibah dan menghadapi suatu cobaan. Tentu bukan sabar dan tabah dalam arti negatif berupa pasrah absolut atau lemahnya kemauan untuk bangkit, melainkan sabar dan pasrah (nrimo) dalam konotasi yang positif. Selain itu yang tak kalah mengagumkannya lagi dari tabiat Gus Dur ialah kemampuannya dalam mempertahankan sikap humorisnya dalam berbagai situasi dan keadaan, tak kecuali dalam situasi genting sekalipun Gus Dur senantiasa bisa mengeluarkan joke segar yang menghibur khalayak.
Hal itu salah satunya terungkap dan tampak terutama ketika detik-detik dan hari-hari pasca beliau dilengserkan dari jabatan Presiden RI oleh MPR dalam Sidang Istimewa (SI) akhir bulan Juli 2001. Beberapa kesaksian dari para tokoh maupun pemberitaan media masa menyatakan bahwa meski mandatnya sebagai presiden telah dicabut MPR dalam SI MPR Juli 2001, namun hal itu tidak membuat Gus Dur bersedih. Apalagi meratapi atas hilangnya jabatan itu. Gus Dur masih tetap seperti dulu, baik sebelum atau pun waktu menjadi presiden, yaitu suka guyon dan mbanyol.
Dan itu pula yang dia tunjukkan ketika para kiai khos NU dari berbagai daerah dan pengurus DPP PKB (kala itu) menemui Gus Dur di istana negara, sehari setelah dia dilengserkan. Para Kiai itu, antara lain, Rais Syuriah PBNU, KH Muchit Muzadi, Mustasyar PBNU KH Ahmad Idris Marzuki (alm) dan KH Cholil Bisri (alm), Ketua FKB MPR KH Yusuf Muhammad dan beberapa kiai dan tokoh lainnya.
Dalam pertemuan tersebut para Kiai maupun Gus Dur sama-sama menghindari membicarakan masalah politik. Melainkan Gus Dur justru bercerita yang membuat ger-geran semua yang hadir.
Dalam kesempatan kunjungannya, para kiai dan tokoh-tokoh yang dekat dengan Gus Dur tersebut, dia bercerita, "Bahwa dulu ada seorang kiai di Denanyar Jombang yang pandai mengobati orang sakit. Tapi cara dan doa yang digunakan cukup unik."
"Suatu hari", kata Gus Dur, "Kiai itu mengobati orang sakit gigi. Dia mengambil paku, kemudian dimasukkan ke dalam mulut, persis di tempat gigi yang sakit. Setelah itu sang kiai membaca surat an-Nas. Ketika sampai ayat terakhir bunyinya bukan minal jinnati wan naas, tapi minal jinnati waras (sehat)."
Sudah barang tentu sikap yang ditunjukkan Gus Dur yang tetap sabar dan tidak kehilangan sence of humor-nya ini di luar dugaan semua yang hadir termasuk para kiai. Pasalnya, pada waktu yang sama umumnya tokoh NU maupun PKB sedang dalam puncang emosi lantaran tidak terima Gus Dur dilengserkan MPR melalui SI. Begitu pula warga nahdliyyin yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia waktu itu sedang dirundung kesedihan yang cukup mendalam menyaksikan pemimpin dan panutannya dilengserkan di tengah-tengah periode masa khidmahnya sebagai Presiden RI keempat.
Maksud kehadiran para kiai yang datang menemui Gus Dur pun sebenarnya dalam rangka menunjukkan solidaritas dan rasa simpati kalangan Kiai serta upaya untuk membesarkan hati (menghibur) Gus Dur setelah sebelumnya berbagai usaha telah ditempuh para kiai agar MPR tidak sampai menggelar SI yang berujung dengan dicabutnya mandat Gus Dur sebagai presiden. Diantara upaya itu adalah pada 19 Juli 2001 para kiai Jawa Timur yang di prakarsai PWNU Jawa Timur mennggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Pertemuan tersebut di hadiri pula oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid. Kemudian pada 22 Juli 2001 juga diselenggarakan pertemuan yang sama dengan skala yang lebih besar di Pesantren As Sidiqiyyah Jakarta asuhan KH Nur Muhammad Iskandar. Kali ini melibatkan seluruh Kiai NU se Indonesia.
Pertemuan-pertemuan para kiai di atas dimaksudkan menghasilkan keputusan yang bisa menyejukkan bagi kondisi negeri tempo itu dan tidak sebaliknya membuat negeri ini kian memanas.
KH Ali Maschan Musa, Ketua PWNU Jawa Timur waktu itu, menyatakan bahwa dengan adanya forum pertemuan para kiai tersebut pada intinya para kiai menginginkan persatuan bangsa Indonesia tidak pecah. Dan salah satu syarat agar Indonesia tidak pecah adalah Gus Dur tidak dijatuhkan. Pertemuan semacam ini, menurut Kiai Ali, pernah dilakukan ketika presiden Soekarno mendapat banyak masalah. Ketika itu para kiai membahas apakah Soekarno presiden yang sah apa tidak. Ketika diputuskan bahwa Soekarno presiden yang sah, para kiai meminta jabatan itu diteruskan dan rakyat Indonesia diserukan untuk mendukungnya.
M Haromain, Pengajar di pesantren Nurun Ala Nur, Bogangan Wonosobo.
Hal itu salah satunya terungkap dan tampak terutama ketika detik-detik dan hari-hari pasca beliau dilengserkan dari jabatan Presiden RI oleh MPR dalam Sidang Istimewa (SI) akhir bulan Juli 2001. Beberapa kesaksian dari para tokoh maupun pemberitaan media masa menyatakan bahwa meski mandatnya sebagai presiden telah dicabut MPR dalam SI MPR Juli 2001, namun hal itu tidak membuat Gus Dur bersedih. Apalagi meratapi atas hilangnya jabatan itu. Gus Dur masih tetap seperti dulu, baik sebelum atau pun waktu menjadi presiden, yaitu suka guyon dan mbanyol.
Dan itu pula yang dia tunjukkan ketika para kiai khos NU dari berbagai daerah dan pengurus DPP PKB (kala itu) menemui Gus Dur di istana negara, sehari setelah dia dilengserkan. Para Kiai itu, antara lain, Rais Syuriah PBNU, KH Muchit Muzadi, Mustasyar PBNU KH Ahmad Idris Marzuki (alm) dan KH Cholil Bisri (alm), Ketua FKB MPR KH Yusuf Muhammad dan beberapa kiai dan tokoh lainnya.
Dalam kesempatan kunjungannya, para kiai dan tokoh-tokoh yang dekat dengan Gus Dur tersebut, dia bercerita, "Bahwa dulu ada seorang kiai di Denanyar Jombang yang pandai mengobati orang sakit. Tapi cara dan doa yang digunakan cukup unik."
"Suatu hari", kata Gus Dur, "Kiai itu mengobati orang sakit gigi. Dia mengambil paku, kemudian dimasukkan ke dalam mulut, persis di tempat gigi yang sakit. Setelah itu sang kiai membaca surat an-Nas. Ketika sampai ayat terakhir bunyinya bukan minal jinnati wan naas, tapi minal jinnati waras (sehat)."
Sudah barang tentu sikap yang ditunjukkan Gus Dur yang tetap sabar dan tidak kehilangan sence of humor-nya ini di luar dugaan semua yang hadir termasuk para kiai. Pasalnya, pada waktu yang sama umumnya tokoh NU maupun PKB sedang dalam puncang emosi lantaran tidak terima Gus Dur dilengserkan MPR melalui SI. Begitu pula warga nahdliyyin yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia waktu itu sedang dirundung kesedihan yang cukup mendalam menyaksikan pemimpin dan panutannya dilengserkan di tengah-tengah periode masa khidmahnya sebagai Presiden RI keempat.
Maksud kehadiran para kiai yang datang menemui Gus Dur pun sebenarnya dalam rangka menunjukkan solidaritas dan rasa simpati kalangan Kiai serta upaya untuk membesarkan hati (menghibur) Gus Dur setelah sebelumnya berbagai usaha telah ditempuh para kiai agar MPR tidak sampai menggelar SI yang berujung dengan dicabutnya mandat Gus Dur sebagai presiden. Diantara upaya itu adalah pada 19 Juli 2001 para kiai Jawa Timur yang di prakarsai PWNU Jawa Timur mennggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Pertemuan tersebut di hadiri pula oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid. Kemudian pada 22 Juli 2001 juga diselenggarakan pertemuan yang sama dengan skala yang lebih besar di Pesantren As Sidiqiyyah Jakarta asuhan KH Nur Muhammad Iskandar. Kali ini melibatkan seluruh Kiai NU se Indonesia.
Pertemuan-pertemuan para kiai di atas dimaksudkan menghasilkan keputusan yang bisa menyejukkan bagi kondisi negeri tempo itu dan tidak sebaliknya membuat negeri ini kian memanas.
KH Ali Maschan Musa, Ketua PWNU Jawa Timur waktu itu, menyatakan bahwa dengan adanya forum pertemuan para kiai tersebut pada intinya para kiai menginginkan persatuan bangsa Indonesia tidak pecah. Dan salah satu syarat agar Indonesia tidak pecah adalah Gus Dur tidak dijatuhkan. Pertemuan semacam ini, menurut Kiai Ali, pernah dilakukan ketika presiden Soekarno mendapat banyak masalah. Ketika itu para kiai membahas apakah Soekarno presiden yang sah apa tidak. Ketika diputuskan bahwa Soekarno presiden yang sah, para kiai meminta jabatan itu diteruskan dan rakyat Indonesia diserukan untuk mendukungnya.
M Haromain, Pengajar di pesantren Nurun Ala Nur, Bogangan Wonosobo.
Selasa, 05 Juli 2016
Gus Dur Dan Minuman Keras (Oleh :Ayah Debay)
Kisah Gus Dur Terjaga dari Makanan dan Minuman Haram
Jika Rasulullah SAW itu ma’shum (terlindungi dari berbagai maksiat), maka para wali Allah itu mahfudz (terjaga dari berbagai maksiat). Allah mengganti mujahadah (usaha keras) mereka -dalam mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah (pada awalnya)-, dengan hadiah penjagaan Allah (pada akhirnya).
Berikut, Kisah Gus Dur dan rombongan ketika berada di Australia. Mereka hendak menghadiri sebuah undangan, terkait dengan jabatan Gus Dur -yang saat itu menjadi ketua umum PBNU-. Karena acara diselenggarakan selama beberapa hari, mereka diinapkan di sebuah hotel.
Di suatu pagi, Gus Dur bersama rombongan telah berada di depan meja makan. Mereka akan sarapan dengan hidangan yang telah disediakan oleh pihak hotel. Ketika Gus Dur akan menyantap sebuah daging, beliau tidak langsung memakannya, tetapi beliau menciumnya terlebih dahulu. Tiba-tiba beliau berkata, “ini jangan dimakan, ini daging babi”. Rombongan pun segera mencarikan makanan lain yang jelas-jelas halal.
H Sulaiman -asisten Gus Dur yang menemaninya sejak tahun 1986- menuturkan bahwa Gus Dur sangat menjaga makanan yang halal. Ketika mengetahui sopirnya meminum segelas minuman yang mengandung kadar alkohol ringan, beliau menegurnya dengan keras, “kayak nggak ada minuman lain aja”. Dalam sebuah kesempatan -ketika menghadiri undangan di Perancis- Gus Dur juga pernah disuguhi sebuah anggur putih, dengan halus Gus Dur pun menolaknya.
Dalam kondisi apapun seorang wali Allah akan menjaga agar setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya adalah makanan yang benar-benar halal. Bahkan ketika orang-orang awam tidak mengetahui bahwa itu adalah daging yang haram, wali Allah bisa mengetahuinya, tentu saja atas ijin Allah SWT. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Jika Rasulullah SAW itu ma’shum (terlindungi dari berbagai maksiat), maka para wali Allah itu mahfudz (terjaga dari berbagai maksiat). Allah mengganti mujahadah (usaha keras) mereka -dalam mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah (pada awalnya)-, dengan hadiah penjagaan Allah (pada akhirnya).
Berikut, Kisah Gus Dur dan rombongan ketika berada di Australia. Mereka hendak menghadiri sebuah undangan, terkait dengan jabatan Gus Dur -yang saat itu menjadi ketua umum PBNU-. Karena acara diselenggarakan selama beberapa hari, mereka diinapkan di sebuah hotel.
Di suatu pagi, Gus Dur bersama rombongan telah berada di depan meja makan. Mereka akan sarapan dengan hidangan yang telah disediakan oleh pihak hotel. Ketika Gus Dur akan menyantap sebuah daging, beliau tidak langsung memakannya, tetapi beliau menciumnya terlebih dahulu. Tiba-tiba beliau berkata, “ini jangan dimakan, ini daging babi”. Rombongan pun segera mencarikan makanan lain yang jelas-jelas halal.
H Sulaiman -asisten Gus Dur yang menemaninya sejak tahun 1986- menuturkan bahwa Gus Dur sangat menjaga makanan yang halal. Ketika mengetahui sopirnya meminum segelas minuman yang mengandung kadar alkohol ringan, beliau menegurnya dengan keras, “kayak nggak ada minuman lain aja”. Dalam sebuah kesempatan -ketika menghadiri undangan di Perancis- Gus Dur juga pernah disuguhi sebuah anggur putih, dengan halus Gus Dur pun menolaknya.
Dalam kondisi apapun seorang wali Allah akan menjaga agar setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya adalah makanan yang benar-benar halal. Bahkan ketika orang-orang awam tidak mengetahui bahwa itu adalah daging yang haram, wali Allah bisa mengetahuinya, tentu saja atas ijin Allah SWT. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Jumat, 01 Juli 2016
Latar Belakang Berdirinya Grup Sahabat Gus Dur
Indonesia negara 258 juta penduduk, negeri multi kultural, multi etnis dan multi agama dan kepercayaan. Negeri yang terbentang diantara 3 benua dan 3 samudra. Negeri yang ribuan tahun mengalami pasang surut kejayaannya, mulai dari abad ke 7 kerajaan Sriwijaya, Majapahit sampai Indonesia modern sekarang ini. Negeri yang pernah terjajah selama lebih dari 3,5 abad oleh Belanda,Jepang, Inggris dan Portugal karena politik devide et empera penjajah dan ekspolitasi kekayaan alamnya.
Sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang terbuka terhadap pengaruh bangsa lain karena letaknya yang strategis terletak di jalur perdagangan dan pelayaran dunia. Mulai dari pengaruh Hindu dari India, Buddha dari Tiongkok, Islam dari Arab dan Tiongkok sampai Kristen/Katolik dari Belanda dan Inggris. Itu kenapa budaya negeri lebih dari 13.000 pulau ini sangatlah kaya dan beraneka ragam, lebih dari ratusan suku dan puluhan agama dan kepercayaan berkembang di negeri ini. Negeri heterogen ini dipersatukan oleh persamaan nasib dan perjuangan dalam melawan penjajahan dan sejarah kerajaan kuno.
Bulan Maret 2015 pertemuan beberapa relawan penggiat dunia maya Bagus, Ronny Leung dan Nury Tiara memiliki ide untuk membuat Grup Sahabat Gus Dur. Grup yang bertujuan untuk melestarikan cita - cita dan ajaran Gus Dur di negeri ini. Awal dari grup ini bertujuan untuk sarana berkumpul dan bertukar pendapat para Gus Dur-ian. Beberapa saat karena kesibukan Bagus keluar dari grup untuk lebih fokus mengerjakan blog - blog pribadinya. Tetapi masuknya Liza Ariani (Pati/Katolik), Teddy Calterio (NU/Semarang), Ali Valentino (Jakarta), Yunus (jakarta) sebagai admin menutupi kekurangan tersebut.
Memasuki tahun 2016 Grup Sahabat Gus Dur bertambah besar dengan masuknya Hasan Bisri (Ansor/Jatim), Amiruddin Faisal (Pagar Nusa/Cirebon), Raswita Diniya (Fatayat NU/Sidoarjo) dan Shuniyya Ruhama (Fatayat NU/ Kendal), semakin membuat grup Sahabat Gus Dur menemukan dan meneguhkan tujuannya yaitu nasionalis, pluralis, bhinneka tunggal ika menyebarkan dan mengajarkan ajaran dan teladan hidup Gus Dur tentang persatuan diantara perbedaan diseluruh Indonesia agar bangsa ini kembali bangkit menjadi bangsa yang besar dan bermartabat diantara bangsa-bangsa lain didunia.
Kita juga memiliki visi dan misi agar grup Sahabat Gus Dur bisa memiliki anggota ratusan ribu dan mungkin jutaan. Ajaran dan teladan Gus Dur bisa didengar dan dibaca diseluruh nusantara. Memiliki kegiatan rutin positif untuk amal bagi kaum duafa, pengajaran tentang pluralisme, nasionalisme, bhinneka tunggal ika.
Kami tutup dengan kata - kata mutiara Gus Dur :
" Tidak penting apapun agama atau sukumu .Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu ... "
"Ajaran agama merupakan inspirasi orang beragama dan bernegara "
"Peran agama sesungguhnya membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya merupakan bagian dari anggota umat manusia, dan bagian dari alam semesta "
" Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan "
" Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah essensi tugas kesejahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali "
Sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang terbuka terhadap pengaruh bangsa lain karena letaknya yang strategis terletak di jalur perdagangan dan pelayaran dunia. Mulai dari pengaruh Hindu dari India, Buddha dari Tiongkok, Islam dari Arab dan Tiongkok sampai Kristen/Katolik dari Belanda dan Inggris. Itu kenapa budaya negeri lebih dari 13.000 pulau ini sangatlah kaya dan beraneka ragam, lebih dari ratusan suku dan puluhan agama dan kepercayaan berkembang di negeri ini. Negeri heterogen ini dipersatukan oleh persamaan nasib dan perjuangan dalam melawan penjajahan dan sejarah kerajaan kuno.
Memasuki tahun 2016 Grup Sahabat Gus Dur bertambah besar dengan masuknya Hasan Bisri (Ansor/Jatim), Amiruddin Faisal (Pagar Nusa/Cirebon), Raswita Diniya (Fatayat NU/Sidoarjo) dan Shuniyya Ruhama (Fatayat NU/ Kendal), semakin membuat grup Sahabat Gus Dur menemukan dan meneguhkan tujuannya yaitu nasionalis, pluralis, bhinneka tunggal ika menyebarkan dan mengajarkan ajaran dan teladan hidup Gus Dur tentang persatuan diantara perbedaan diseluruh Indonesia agar bangsa ini kembali bangkit menjadi bangsa yang besar dan bermartabat diantara bangsa-bangsa lain didunia.
Kita juga memiliki visi dan misi agar grup Sahabat Gus Dur bisa memiliki anggota ratusan ribu dan mungkin jutaan. Ajaran dan teladan Gus Dur bisa didengar dan dibaca diseluruh nusantara. Memiliki kegiatan rutin positif untuk amal bagi kaum duafa, pengajaran tentang pluralisme, nasionalisme, bhinneka tunggal ika.
Kami tutup dengan kata - kata mutiara Gus Dur :
" Tidak penting apapun agama atau sukumu .Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu ... "
"Ajaran agama merupakan inspirasi orang beragama dan bernegara "
"Peran agama sesungguhnya membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya merupakan bagian dari anggota umat manusia, dan bagian dari alam semesta "
" Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan "
" Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah essensi tugas kesejahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali "
Langganan:
Postingan (Atom)

















