GUS DUR IKU ALIM ALIME WONG PALING ALIM JAMAN IKI
Sejak masih remaja, nama Gus Dur mulai akrab. Namun, pengetahuan Shuniyya hanya sebatas bahwa Gus Dur adalah cucu Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'arie, pendiri NU. Dan saat itu dikenal sebagai orang yang kritis berani melawan pemerintahan Orde Baru yang dikenal otoriter. Akibatnya, banyak berita miring tentang figur Gus Dur.
Sering sekali Shuniyya dibuat kebingungan bagaimana bisa perilaku seorang Gus, keturunan darah biru "premium edition" pesantren bisa aneh dan nyleneh. Tidak pernah ada contoh seperti itu sebelumnya. Namun, Shuniyya hanya bisa diam saja. Hingga akhirnya beliau KH Abdurrahman Wahid menjadi Presiden Indonesia.
Sebagai Presiden, tentu saja menjadi sorotan publik. Segala perilaku, gerak, apalagi statemen beliau selalu saja bisa kita ikuti dimana-mana. Melihat hal ini, lama-lama Shuniyya merasa tidak nyaman. Akhirnya, bertanya kepada guru Shuniyya, Simbah Kyai Iskandar Jogja almarhum (wafat tahun 2007).
"Mbah, Gus Dur itu kan Kyai, tapi kok perilakunya seperti itu ya, aneh tur nganeh-anehi,"
Mbah Yai Is tersenyum. Beliau menjawab, "Aslinya, Gus Dur itu tidak aneh. Kita saja yang tidak nutut ilmunya, sehingga memandang beliau aneh.... Seandainya orang seperti simbah ini ada seribu, diikat dikumpulkan jadi satu, ilmunya tidak ada sekuku hitamnya Gus Dur... Gus Dur iku alim-alime wong paling alim jaman iki,"
Shuniyya kaget setengah mati mendengar jawaban ini. Rasa malu dan kagum bercampur jadi satu. Penasaran juga, dan entah kenapa, menjadi sebuah kerinduan untuk bisa langsung bermuwajahah dengan Gus Dur. Saat itu juga, Shuniyya mohon doa dan restu dari Mbah Yai supaya bisa bertemu dengan Gus Dur dan belajar dari beliau.
Doa Mbah Yai Is dikabulkan Gusti Allah. Tahun 2001 beberapa bulan setelah beliau tidak menjadi Presiden, pada suatu acara di Jogja, Shuniyya berhasil ketemu Gus Dur. Subhanallah... Tidak ada kata yang bisa melukiskan kebahagiaan waktu itu. bertemu dengan sealim-alimnya manusia paling alim di jaman ini.
Pertemuan dengan Gus Dur menjadi lebih instensif setelah Shuniyya hijrah ke Jakarta pada bulan Mei 2005 hingga berangkatnya beliau ke rofiqul a'la pada 30 Desember 2009.
Walau sekejap pertemuan itu, namun tali rasa yang dijalin, sebagai guru, orangtua,kekasih, pecinta Gus Dur tidak akan pudar dan cerita ini akan Shuniyya turunkan kepada anak cucu.
Berangkatnya Gus Dur ke rofiqul a'la menjadi ayat dan hikmah yang luar biasa. Yakni, terjalinnya silaturahim dengan keluarga, murid dan pecinta beliau di seantero dunia... Dan semenjak itu, Shuniyya mengumumkan nama dan gelar untuk beliau adalah: Simbah Wali Kanjeng Sunan Nuswantoro Kyai Haji Abdurrahman Wahid Ad Dakhil Almaghfurlah. Atau biasa Shuniyya singkat dengan sebutan: Mbah Wali..
I Love u mbah Wali Gus Dur. Ila hadlroti ruhi simbah wali Gus Dur wa zawjatihi wadzurriyatihi wa furi'ihi wasilsilatihi syaiun lillahu lana walahum alfatihah...
Kendal, 21 Agustus 2015
Rabu, 29 Juni 2016
Sabtu, 25 Juni 2016
Firasat Gus Dur Sebelum Meninggal (Oleh :Erik Yulianto)
Firasat Gus Dur Sebelum Meninggal
Oleh : Erik Yulianto (Member Sahabat Gus Dur)
Ini kisah yang tak hanya mengesankan tapi mengharukan. Gus Mus bercerita bahwa sekitar seminggu menjelang berpulang, Gus Dur mampir ke kediamannya untuk bercengkerama seperti yang biasa dilakukannya sebelum hari itu untuk sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Tak ada sikap dan cara Gus Dur yang berubah.
Jika bertemu Gus Mus, Gus Dur akan bercerita tentang situasi bangsa dan negara, keadaan NU, keadaan para kiai, dan satu hal yang tak pernah ditinggalkan Gus Dur: membawa cerita-cerita unik, menarik, dan lucu yang membuat mereka berdua dan semua orang yang mendengar terbahak-bahak.
Pada hari itu, Gus Dur bicara tentang kawan-kawan lama saat di Kairo, Mesir. Mengenang kembali perjalanan belajar dan pengembaraannya di sana. Bercerita juga tentang teman-temannya yang kemudian menjadi orang besar di negaranya, seperti Abd. Al-Qayyum yang menjadi Presiden Maladewa.
Selain cerita di kediaman Gus Mus, Gus Dur hari itu makan banyak, Semua makanan yang dihidangkan dimakan, padahal sebelumnya sulit makan sudah 10 hari. Gus Mus pun tahu selera Gus Dur yang suka makan dengan sambal pedas.
Pertemuan yang direncanakan sebentar itu ternyata sampai sekitar dua jam. Gus Dur tampak sehat dan bergairah. Tapi, sedang asyik-asyiknya ngobrol dan bercanda-ria cerdas itu, tiba-tiba Gus Dur bilang, “Gus Mus, aku harus segera berangkat ke Tebuireng, aku dipanggil Si Mbah.” Si Mbah yang disebut Gus Dur tak lain adalah sang kakek, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Itulah pertemuan terakhir Gus Mus dengan Gus Dur.
Oleh : Erik Yulianto (Member Sahabat Gus Dur)
Profile : https://www.facebook.com/nur.rifqi.96?fref=nf
Oleh : Erik Yulianto (Member Sahabat Gus Dur)
Ini kisah yang tak hanya mengesankan tapi mengharukan. Gus Mus bercerita bahwa sekitar seminggu menjelang berpulang, Gus Dur mampir ke kediamannya untuk bercengkerama seperti yang biasa dilakukannya sebelum hari itu untuk sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Tak ada sikap dan cara Gus Dur yang berubah.
Jika bertemu Gus Mus, Gus Dur akan bercerita tentang situasi bangsa dan negara, keadaan NU, keadaan para kiai, dan satu hal yang tak pernah ditinggalkan Gus Dur: membawa cerita-cerita unik, menarik, dan lucu yang membuat mereka berdua dan semua orang yang mendengar terbahak-bahak.
Pada hari itu, Gus Dur bicara tentang kawan-kawan lama saat di Kairo, Mesir. Mengenang kembali perjalanan belajar dan pengembaraannya di sana. Bercerita juga tentang teman-temannya yang kemudian menjadi orang besar di negaranya, seperti Abd. Al-Qayyum yang menjadi Presiden Maladewa.
Selain cerita di kediaman Gus Mus, Gus Dur hari itu makan banyak, Semua makanan yang dihidangkan dimakan, padahal sebelumnya sulit makan sudah 10 hari. Gus Mus pun tahu selera Gus Dur yang suka makan dengan sambal pedas.
Pertemuan yang direncanakan sebentar itu ternyata sampai sekitar dua jam. Gus Dur tampak sehat dan bergairah. Tapi, sedang asyik-asyiknya ngobrol dan bercanda-ria cerdas itu, tiba-tiba Gus Dur bilang, “Gus Mus, aku harus segera berangkat ke Tebuireng, aku dipanggil Si Mbah.” Si Mbah yang disebut Gus Dur tak lain adalah sang kakek, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Itulah pertemuan terakhir Gus Mus dengan Gus Dur.
Oleh : Erik Yulianto (Member Sahabat Gus Dur)
Profile : https://www.facebook.com/nur.rifqi.96?fref=nf
Rabu, 22 Juni 2016
Gus Dur (Oleh : Habib Lutfi Bin Yahya)
Habib Luthfi Bin Yahya; Yang Sangat Bernilai dari Gus Dur
Ditulis kembali Oleh : Ayah Debay
"Saya modali!" jawab Habib Luthfi bin Yahya saat pertamakali disowani forum Gusdurian Tegal yang hendak mengadakan Haul Gus Dur yang ke-6. "Pihak yang diundang malah memberikan modal duluan bahkan dengan nominal yang cukup besar," ungkap panitia saat memberikan sambutannya di acara Haul Gus Dur ke-6 pada Selasa malam Rabu (19/01) di Gedung KORPRI Jl. Dr. Soetomo No. 2 Slawi Tegal.
Uniknya di Haul Gus Dur malam itu seluruh elemen bangsa berkumpul jadi satu dalam satu gedung. Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu "Kita Semua Bersaudara", merupakan ajang Silaturrahim Nusantara yang diprakarsai oleh PCNU dan Gusdurian Tegal dengan semua elemen masyarakat baik sipil, TNI, Polri dan tokoh-tokoh lintas agama. Hadir sebagai acara inti Mbak Alissa Wahid (putri Gus Dur), Romo Fran Magnis Suseno, dan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.
"Mendiang adalah seseorang yang tak mengenal capek. Walaupun secara kondisi fisik, sulit untuk melihat. Tapi pola pikir, keintelektualan, wawasan kebangsaan dan keagamaan, dan kejeniusannya yang sulit untuk bisa ditemukan kembali." Ucap Habib Luthfi mengawali ceramah agamanya. Habib Luthfi sudah sering menemani Gus Dur semenjak sebelum menjadi Pengurus Besar NU, bersama Kiai Fuad Buntet Cirebon, berdakwah kesana-kemari satu mobil bersama. Pengalaman yang sangat bernilai dari Gus Dur adalah nilai sejarahnya yang selalu dipegang kuat. Karena mengenal sejarah maka beliau lebih jauh mengenal bangsanya. Karena mengenal sejarah maka sulit untuk bisa melupakan bangsanya. "Itulah diantara yang saya kenal dari Gus Dur," kenang Habib Luthfi.
Gus Dur kalau dicerna oleh orang yang belum faham atau tidak cerdas, maka pada dasarnya pemikiran Gus Dur yang melangkah lebih jauh ke depan sedang melatih kita berfikir cerdas. "Ibarat memetik mangga yang belum masak (pentil; bahasa Jawa), akan menjadikan sakit perut jika dimakan bukan pada waktunya. Namun menjadi kebutuhan bagi ibu hamil yang sedang ngidam," lanjut Habib Luthfi.
Pembicaraan Gus Dur itu tidak bisa dimakan hari ini. Tapi mungkin bisa dimakan satu bulan atau satu tahun kemudian. Orang akan baru menyadari, "Oh iya benar kata Gus Dur". Ada kritikan dari beberapa guru kita, diantaranya "Koe aja mung pinter ngalem kuburan bae" (Kamu jangan hanya suka memuji kuburan terus). "Lama-lama saya tanya maksudnya apa. Ternyata, ketika seorang tokoh atau pemimpin tersebut, dan memang resiko bagi dirinya, sewaktu masa hidupnya banyak dikatakan, "Orang itu terlalu keras", yang lain mengatakan, "Orang itu terlalu blak-blakan". Ada yang suka dan ada yang benci. Tetapi setelah tiadanya, yaitu sesudah di kuburan, mereka baru ramai-ramai memujinya."
Terkait tema Haul Gus Dur ke-6 "Kita Semua Saudara", menurut Habib Luthfi adalah tema yang sangat menyentuh dan luar biasa. Karena kita semua adalah saudara, bagian dari "Bela Bangsa". Yang namanya bela bangsa itu bukan hanya mengangkat senjata, latihan militer atau wajib militer. Meningkatkan rasa memiliki bangsa dan republik ini, itu juga bagian dari bela bangsa selain juga memajukan ekonomi dan pertanian. Menggalang persaudaraan, semua kita bersaudara, itu adalah benteng-benteng yang kokoh untuk melengkapi wujudnya ketahanan nasional.
Persaudaraan ada dua. Pertama, saudara seagama sebangsa setanah air. Kedua, saudara sebangsa setanah air, ini yang harus diperkuat. Tanpa memandang ras dan agamanya, tapi katakan "Saya Indonesia". Tidak ada sekat keturunan manapun, entah China ataupun Arab. Persaudaraan yang sejati adalah ketika saudara kita dicubit maka kita turut merasakan sakit, tanpa ada pengkotak-kotakkan. Jika terjadi pengkotak-kotakkan maka kita tidak akan tahu hakikat persaudaraan tersebut.
Menghargai hak sesama sudah jauh lebih dulu dilakukan oleh tokoh-tokoh kita terdahulu. Bahkan, lihatlah riwayat sejarah deklarasi Madinah terbentuk dari Yahudi, Nasrani dan Muslim untuk sama-sama saling menghormati dan menghargai hak sesamanya. Kita merupakan regenerasi dari sejarah, menjalin persaudaraan demi regenerasi masa yang akan datang. Dengan memahami itu bangsa akan menjadi kuat.
"Sebab yang saya khawatirkan adalah, seperti dalam ajaran kami Nabi Besar Muhammad Saw. dalam sabdanya: "Kadar bobot keimanan seseorang tergantung kecintaannya padaku." Kalau ditafsirkan, maka maknanya adalah ketika kadar bobot kecintaan (kepercayaan) seseorang pada tokohnya (dari agama manapun) memudar maka imannya pun semakin luntur. Kalau sudah luntur maka sangat mudah untuk dipecah-belah. Jangan coba-coba memecah-belah Bangsa Indonesia dan membenturkan antar umat beragama, karena "Kami Semua Bersaudara". Rapatkan barisan kita, jangan beri kesempatan seujung rambutpun kepada oknum-oknum manusia yang akan menghancurkan NKRI!" Tegas Habib Luthfi bin Yahya yang disambut dengan semangat antusias para pengunjung Haul Gus Dur malam itu.
Ditulis kembali Oleh : Ayah Debay
"Saya modali!" jawab Habib Luthfi bin Yahya saat pertamakali disowani forum Gusdurian Tegal yang hendak mengadakan Haul Gus Dur yang ke-6. "Pihak yang diundang malah memberikan modal duluan bahkan dengan nominal yang cukup besar," ungkap panitia saat memberikan sambutannya di acara Haul Gus Dur ke-6 pada Selasa malam Rabu (19/01) di Gedung KORPRI Jl. Dr. Soetomo No. 2 Slawi Tegal.
Uniknya di Haul Gus Dur malam itu seluruh elemen bangsa berkumpul jadi satu dalam satu gedung. Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu "Kita Semua Bersaudara", merupakan ajang Silaturrahim Nusantara yang diprakarsai oleh PCNU dan Gusdurian Tegal dengan semua elemen masyarakat baik sipil, TNI, Polri dan tokoh-tokoh lintas agama. Hadir sebagai acara inti Mbak Alissa Wahid (putri Gus Dur), Romo Fran Magnis Suseno, dan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.
"Mendiang adalah seseorang yang tak mengenal capek. Walaupun secara kondisi fisik, sulit untuk melihat. Tapi pola pikir, keintelektualan, wawasan kebangsaan dan keagamaan, dan kejeniusannya yang sulit untuk bisa ditemukan kembali." Ucap Habib Luthfi mengawali ceramah agamanya. Habib Luthfi sudah sering menemani Gus Dur semenjak sebelum menjadi Pengurus Besar NU, bersama Kiai Fuad Buntet Cirebon, berdakwah kesana-kemari satu mobil bersama. Pengalaman yang sangat bernilai dari Gus Dur adalah nilai sejarahnya yang selalu dipegang kuat. Karena mengenal sejarah maka beliau lebih jauh mengenal bangsanya. Karena mengenal sejarah maka sulit untuk bisa melupakan bangsanya. "Itulah diantara yang saya kenal dari Gus Dur," kenang Habib Luthfi.
Gus Dur kalau dicerna oleh orang yang belum faham atau tidak cerdas, maka pada dasarnya pemikiran Gus Dur yang melangkah lebih jauh ke depan sedang melatih kita berfikir cerdas. "Ibarat memetik mangga yang belum masak (pentil; bahasa Jawa), akan menjadikan sakit perut jika dimakan bukan pada waktunya. Namun menjadi kebutuhan bagi ibu hamil yang sedang ngidam," lanjut Habib Luthfi.
Pembicaraan Gus Dur itu tidak bisa dimakan hari ini. Tapi mungkin bisa dimakan satu bulan atau satu tahun kemudian. Orang akan baru menyadari, "Oh iya benar kata Gus Dur". Ada kritikan dari beberapa guru kita, diantaranya "Koe aja mung pinter ngalem kuburan bae" (Kamu jangan hanya suka memuji kuburan terus). "Lama-lama saya tanya maksudnya apa. Ternyata, ketika seorang tokoh atau pemimpin tersebut, dan memang resiko bagi dirinya, sewaktu masa hidupnya banyak dikatakan, "Orang itu terlalu keras", yang lain mengatakan, "Orang itu terlalu blak-blakan". Ada yang suka dan ada yang benci. Tetapi setelah tiadanya, yaitu sesudah di kuburan, mereka baru ramai-ramai memujinya."
Terkait tema Haul Gus Dur ke-6 "Kita Semua Saudara", menurut Habib Luthfi adalah tema yang sangat menyentuh dan luar biasa. Karena kita semua adalah saudara, bagian dari "Bela Bangsa". Yang namanya bela bangsa itu bukan hanya mengangkat senjata, latihan militer atau wajib militer. Meningkatkan rasa memiliki bangsa dan republik ini, itu juga bagian dari bela bangsa selain juga memajukan ekonomi dan pertanian. Menggalang persaudaraan, semua kita bersaudara, itu adalah benteng-benteng yang kokoh untuk melengkapi wujudnya ketahanan nasional.
Persaudaraan ada dua. Pertama, saudara seagama sebangsa setanah air. Kedua, saudara sebangsa setanah air, ini yang harus diperkuat. Tanpa memandang ras dan agamanya, tapi katakan "Saya Indonesia". Tidak ada sekat keturunan manapun, entah China ataupun Arab. Persaudaraan yang sejati adalah ketika saudara kita dicubit maka kita turut merasakan sakit, tanpa ada pengkotak-kotakkan. Jika terjadi pengkotak-kotakkan maka kita tidak akan tahu hakikat persaudaraan tersebut.
Menghargai hak sesama sudah jauh lebih dulu dilakukan oleh tokoh-tokoh kita terdahulu. Bahkan, lihatlah riwayat sejarah deklarasi Madinah terbentuk dari Yahudi, Nasrani dan Muslim untuk sama-sama saling menghormati dan menghargai hak sesamanya. Kita merupakan regenerasi dari sejarah, menjalin persaudaraan demi regenerasi masa yang akan datang. Dengan memahami itu bangsa akan menjadi kuat.
"Sebab yang saya khawatirkan adalah, seperti dalam ajaran kami Nabi Besar Muhammad Saw. dalam sabdanya: "Kadar bobot keimanan seseorang tergantung kecintaannya padaku." Kalau ditafsirkan, maka maknanya adalah ketika kadar bobot kecintaan (kepercayaan) seseorang pada tokohnya (dari agama manapun) memudar maka imannya pun semakin luntur. Kalau sudah luntur maka sangat mudah untuk dipecah-belah. Jangan coba-coba memecah-belah Bangsa Indonesia dan membenturkan antar umat beragama, karena "Kami Semua Bersaudara". Rapatkan barisan kita, jangan beri kesempatan seujung rambutpun kepada oknum-oknum manusia yang akan menghancurkan NKRI!" Tegas Habib Luthfi bin Yahya yang disambut dengan semangat antusias para pengunjung Haul Gus Dur malam itu.
Doa Untuk Gus Dur Lintas Agama Semarang (Oleh:Ayah:Debay)
Aktivis NU, Kristen & Ahmadiyah Gelar Doa Bersama untuk Gus Dur di Semarang
Puluhan aktivis lintas agama dari NU, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghuchu dan Ahmadiyah menggelar doa bersama dan peringatan satu tahun meninggalnya Gus Dur di Monumen Tugu Muda Semarang, tadi malam (30/12/2010).
Lengkingan suara saxophone langsung terdengar mengisi hening peringatan mengenang mendiang tokoh besar yang dikenal humanis semasa hidupnya tersebut, mengiringi lantunan shalawat dan orasi kemanusiaan yang disampaikan.
Romo Aloys Budi Purnama, sang peniup saxophone memainkan beberapa lagu kebangsaan, seperti “Gugur Bunga”, “Kukenang Jasamu”, “Indonesia Pusaka”, dan “Satu Nusa Satu Bangsa” dengan irama menyayat, diikuti para peserta.
Meski berlangsung di tengah guyuran hujan, para peserta tidak beralih tempat dan tetap mengikuti acara bertema “Nyanyian Kebangsaan Mengenang Satu Tahun Wafatnya Gus Dur” itu dengan khidmat, membawa lilin yang menyala sambil berpayung.
"....Kaum minoritas yang dibela Gus Dur tidak hanya terbatas dalam konteks agama, namun juga seni dan budaya. Beberapa artis yang dipojokkan, dibela oleh Gus Dur...."
Romo Budi yang ditemui usai acara mengatakan, acara tersebut dimaksudkan mengenang Gus Dur yang baginya bukan hanya pahlawan nasional, namun pahlawan kemanusiaan yang selalu membela orang tertindas dan minoritas.
“Kaum minoritas yang dibela Gus Dur tidak hanya terbatas dalam konteks agama, namun banyak sisi, termasuk pendidikan, seni, dan budaya. Ini dibuktikan dengan beberapa artis yang dipojokkan dan dibela oleh Gus Dur,” katanya.
Menurut dia, semangat perjuangan Gus Dur harus diteruskan dan tidak boleh terhenti, terutama perjuangan dalam membela kemanusiaan dan menghargai serta merayakan kemanusiaan yang selama ini diusung oleh Gus Dur.
Ia menyebutkan, para tokoh lintas agama yang hadir, antara lain perwakilan agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu, bahkan ada pula perwakilan dari jamaah Ahmadiyah yang hadir dalam kesempatan itu.
“Acara ini diprakarsai oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, kebetulan saya perwakilannya dan Gus Dur Centre yang mengusung semangat perjuangan Gus Dur,” kata Romo Budi.
"....Para tokoh lintas agama yang hadir antara lain perwakilan agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dan Ahmadiyah...."
Senada dengan itu, Dr Nelwan selaku inisiator Gus Dur Centre mengatakan, acara tersebut ditujukan untuk menghidupkan semangat humanis, spiritualis, dan kebhinnekaan yang diperjuangkan oleh Gus Dur semasa hidupnya.
“Ini hanya perayaan sederhana untuk mengenang Gus Dur, sesuai dengan sifat kesederhanaan yang dimilikinya. Yang perlu diingat adalah Gus Dur selalu membela kepentingan masyarakat kecil, ini harus dilanjutkan,” kata Nelwan.
Karena itu, kata Nelwan, pihaknya berinisiatif membentuk Gus Dur Centre beberapa bulan setelah kiai nyentrik itu wafat, dimaksudkan untuk meneruskan semangat dan perjuangan Gus Dur dalam membela orang tertindas dan minoritas.
Acara yang diikuti sekitar 50 orang itu, termasuk elemen pemuda dari Nahdlatul Ulama dan pemuda gereja itu ditutup dengan ramah-tamah dan makan bersama, diiringi alunan saxophone Romo Budi dengan irama tembang “Tombo Ati”. [taz/ant]
Puluhan aktivis lintas agama dari NU, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghuchu dan Ahmadiyah menggelar doa bersama dan peringatan satu tahun meninggalnya Gus Dur di Monumen Tugu Muda Semarang, tadi malam (30/12/2010).
Lengkingan suara saxophone langsung terdengar mengisi hening peringatan mengenang mendiang tokoh besar yang dikenal humanis semasa hidupnya tersebut, mengiringi lantunan shalawat dan orasi kemanusiaan yang disampaikan.
Romo Aloys Budi Purnama, sang peniup saxophone memainkan beberapa lagu kebangsaan, seperti “Gugur Bunga”, “Kukenang Jasamu”, “Indonesia Pusaka”, dan “Satu Nusa Satu Bangsa” dengan irama menyayat, diikuti para peserta.
Meski berlangsung di tengah guyuran hujan, para peserta tidak beralih tempat dan tetap mengikuti acara bertema “Nyanyian Kebangsaan Mengenang Satu Tahun Wafatnya Gus Dur” itu dengan khidmat, membawa lilin yang menyala sambil berpayung.
"....Kaum minoritas yang dibela Gus Dur tidak hanya terbatas dalam konteks agama, namun juga seni dan budaya. Beberapa artis yang dipojokkan, dibela oleh Gus Dur...."
Romo Budi yang ditemui usai acara mengatakan, acara tersebut dimaksudkan mengenang Gus Dur yang baginya bukan hanya pahlawan nasional, namun pahlawan kemanusiaan yang selalu membela orang tertindas dan minoritas.
“Kaum minoritas yang dibela Gus Dur tidak hanya terbatas dalam konteks agama, namun banyak sisi, termasuk pendidikan, seni, dan budaya. Ini dibuktikan dengan beberapa artis yang dipojokkan dan dibela oleh Gus Dur,” katanya.
Menurut dia, semangat perjuangan Gus Dur harus diteruskan dan tidak boleh terhenti, terutama perjuangan dalam membela kemanusiaan dan menghargai serta merayakan kemanusiaan yang selama ini diusung oleh Gus Dur.
Ia menyebutkan, para tokoh lintas agama yang hadir, antara lain perwakilan agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu, bahkan ada pula perwakilan dari jamaah Ahmadiyah yang hadir dalam kesempatan itu.
“Acara ini diprakarsai oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, kebetulan saya perwakilannya dan Gus Dur Centre yang mengusung semangat perjuangan Gus Dur,” kata Romo Budi.
"....Para tokoh lintas agama yang hadir antara lain perwakilan agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dan Ahmadiyah...."
Senada dengan itu, Dr Nelwan selaku inisiator Gus Dur Centre mengatakan, acara tersebut ditujukan untuk menghidupkan semangat humanis, spiritualis, dan kebhinnekaan yang diperjuangkan oleh Gus Dur semasa hidupnya.
“Ini hanya perayaan sederhana untuk mengenang Gus Dur, sesuai dengan sifat kesederhanaan yang dimilikinya. Yang perlu diingat adalah Gus Dur selalu membela kepentingan masyarakat kecil, ini harus dilanjutkan,” kata Nelwan.
Karena itu, kata Nelwan, pihaknya berinisiatif membentuk Gus Dur Centre beberapa bulan setelah kiai nyentrik itu wafat, dimaksudkan untuk meneruskan semangat dan perjuangan Gus Dur dalam membela orang tertindas dan minoritas.
Acara yang diikuti sekitar 50 orang itu, termasuk elemen pemuda dari Nahdlatul Ulama dan pemuda gereja itu ditutup dengan ramah-tamah dan makan bersama, diiringi alunan saxophone Romo Budi dengan irama tembang “Tombo Ati”. [taz/ant]
Foto Gus Dur Ada Di Kelenteng Boen Bio (Oleh :Ayah:Debay)
Wow! Di Kelenteng Ini Cuma Ada Foto Gus Dur
Warga etnis Tionghoa baru saja memperingati Tahun Baru Imlek pada Senin (08/02/2016) lalu. Mereka pun merayakannya dengan berbagai kegiatan, termasuk tentu saja juga dengan melakukan ibadah sembahyang untuk memuja para dewa di vihara dan kelenteng. Nah, bicara soal kelenteng yang adalah tempat peribadatan umat agama Khonghucu, ada salah satu hal yang sangat menarik di Kelenteng Boen Bio di Surabaya, Jawa Timur. Saat memasuki kelenteng tertua di Surabaya itu, hanya ada satu foto yang terpajang di dindingnya. Menariknya, itu bukanlah gambar dewa, tokoh Khonghucu atau Tionghoa, melainkan foto Presiden Indonesia KH Abdurrahman Wahid, atau biasa dikenal dengan nama Gus Dur.
Gus Dur Dianggap Sebagai ‘Bapak Bangsa’
"Dipasang sejak Gus Dur wafat pada 2009, sebagai bentuk penghormatan kami kepada beliau. Foto tersebut akan dipajang selamanya di Kelenteng Boen Bio. – Juru kunci Kelenteng Boen Bio, Liem Tiong Yang"
Foto Gus Dur yang terlihat memakai kopiah itu terpajang di salah satu sudut dinding kelenteng tersebut sejak tahun 2009 silam. Hingga saat ini, foto itu masih terpajang dan tidak akan diturunkan. “Dipasang sejak Gus Dur wafat pada 2009, sebagai bentuk penghormatan kami kepada beliau. Foto tersebut akan dipajang selamanya di Kelenteng Boen Bio,” ungkap juru kunci Kelenteng Boen Bio, Liem Tiong Yang kepada awak media, belum lama ini. Sosok mantan Presiden Indonesia yang keempat itu memang dekat dengan kaum Khonghucu dan Tionghoa secara umum. Dia dianggap sebagai ‘Bapak Bangsa’ yang sangat berjasa bagi eksistensi umat Khonghucu di Indonesia. Melalui Keputusan Presiden tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China, Gus Dur membuktikan dia berdiri di atas semua kepentingan dan golongan dengan menjamin hak sipil warga Tionghoa.
Warga etnis Tionghoa baru saja memperingati Tahun Baru Imlek pada Senin (08/02/2016) lalu. Mereka pun merayakannya dengan berbagai kegiatan, termasuk tentu saja juga dengan melakukan ibadah sembahyang untuk memuja para dewa di vihara dan kelenteng. Nah, bicara soal kelenteng yang adalah tempat peribadatan umat agama Khonghucu, ada salah satu hal yang sangat menarik di Kelenteng Boen Bio di Surabaya, Jawa Timur. Saat memasuki kelenteng tertua di Surabaya itu, hanya ada satu foto yang terpajang di dindingnya. Menariknya, itu bukanlah gambar dewa, tokoh Khonghucu atau Tionghoa, melainkan foto Presiden Indonesia KH Abdurrahman Wahid, atau biasa dikenal dengan nama Gus Dur.
Gus Dur Dianggap Sebagai ‘Bapak Bangsa’
"Dipasang sejak Gus Dur wafat pada 2009, sebagai bentuk penghormatan kami kepada beliau. Foto tersebut akan dipajang selamanya di Kelenteng Boen Bio. – Juru kunci Kelenteng Boen Bio, Liem Tiong Yang"
Foto Gus Dur yang terlihat memakai kopiah itu terpajang di salah satu sudut dinding kelenteng tersebut sejak tahun 2009 silam. Hingga saat ini, foto itu masih terpajang dan tidak akan diturunkan. “Dipasang sejak Gus Dur wafat pada 2009, sebagai bentuk penghormatan kami kepada beliau. Foto tersebut akan dipajang selamanya di Kelenteng Boen Bio,” ungkap juru kunci Kelenteng Boen Bio, Liem Tiong Yang kepada awak media, belum lama ini. Sosok mantan Presiden Indonesia yang keempat itu memang dekat dengan kaum Khonghucu dan Tionghoa secara umum. Dia dianggap sebagai ‘Bapak Bangsa’ yang sangat berjasa bagi eksistensi umat Khonghucu di Indonesia. Melalui Keputusan Presiden tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China, Gus Dur membuktikan dia berdiri di atas semua kepentingan dan golongan dengan menjamin hak sipil warga Tionghoa.
Gus Dur Pemimpin Yang Berintegritas (Oleh :Prof KH Said Aqil Siraj)
Ketua PBNU Ajak Masyarakat Teladani Gus Dur
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengajak warga meneladani pola pikir KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Meski identik dengan ungkapan gitu aja kok repot, Gus Dur adalah seorang pemikir andal.
"Gus Dur kelihatannya secara lahir menggangap enteng segala masalah tapi sebenarnya beliau selalu mencari solusi, berpikir mencari terobosan bagaimana mengatasi masalah tersebut, siapa yang akan diutus bisa menangani, dimana dimulainya mengatasi masalah itu," ujar Said saat berpidato di Haul Gus Dur ke-6 di Kediaman Gus Dur, Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatam, Sabtu (26/12/2015).
Said mengatakan, pesan yang paling Ia ingat dari Gus Dur ialah, ilmu tidak berarti jika tak bermanfaat bagi orang banyak. Sebab, membuat ilmu itu bermanfaat lebih sulit daripada mendapatkan ilmu itu sendiri.
"Boleh saja di perguruan tinggi gudangnya profesor, guru besar, tapi belum tentu bermanfaat bagi orang banyak," jelas Said.
Begitu pun dengan Gus Dur, Ia merupakan salah satu sosok yang berhasil menebarkan ilmunya kepada khalayak. Misal, saat Gus Dur menjabat presiden, dirinya mampu mengambil keputusan tegas dari hasil pemikirannya.
"Di balik kotak peci hitamnya itu, sebenarnya ada khazanah yang besar, persis benar ketika mendelegasikan sesuatu pada seseorang," ujarnya.
"Jadi Gus Dur membuktikan dia orang yang bertanggung jawab, bukan manusia yang bodoh," sambungnya.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengajak warga meneladani pola pikir KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Meski identik dengan ungkapan gitu aja kok repot, Gus Dur adalah seorang pemikir andal.
"Gus Dur kelihatannya secara lahir menggangap enteng segala masalah tapi sebenarnya beliau selalu mencari solusi, berpikir mencari terobosan bagaimana mengatasi masalah tersebut, siapa yang akan diutus bisa menangani, dimana dimulainya mengatasi masalah itu," ujar Said saat berpidato di Haul Gus Dur ke-6 di Kediaman Gus Dur, Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatam, Sabtu (26/12/2015).
Said mengatakan, pesan yang paling Ia ingat dari Gus Dur ialah, ilmu tidak berarti jika tak bermanfaat bagi orang banyak. Sebab, membuat ilmu itu bermanfaat lebih sulit daripada mendapatkan ilmu itu sendiri.
"Boleh saja di perguruan tinggi gudangnya profesor, guru besar, tapi belum tentu bermanfaat bagi orang banyak," jelas Said.
Begitu pun dengan Gus Dur, Ia merupakan salah satu sosok yang berhasil menebarkan ilmunya kepada khalayak. Misal, saat Gus Dur menjabat presiden, dirinya mampu mengambil keputusan tegas dari hasil pemikirannya.
"Di balik kotak peci hitamnya itu, sebenarnya ada khazanah yang besar, persis benar ketika mendelegasikan sesuatu pada seseorang," ujarnya.
"Jadi Gus Dur membuktikan dia orang yang bertanggung jawab, bukan manusia yang bodoh," sambungnya.
Gus Dur Seorang Patriot Sejati (Oleh : Prof Mahfud MD)
Kenangan Pribadi Mahfud MD-Gus Dur
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) punya tempat sendiri di hati Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD. Mahfud merasa Gus Dur merupakan sosok yang membawanya menjadi orang berpengaruh di negeri ini.
Mahfud dijadikan Menteri Pertahanan dalam Kabinet Persatuan Nasional pada 26 Agustus 2000 – 20 Juli 2001. "Saya dulu orang kampung dan dari kampus gitu yang bukan apa-apa, tapi oleh Gus Dur diajak ke Jakarta tiba-tiba untuk bantu beliau jadi menteri. Lalu saya sampai sekarang banyak di Jakarta. Itu kenangan pribadi," kata Mahfud saat menghadiri Haul Gus Dur ke-6 di kediaman Gus Dur, Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (26/12/2015).
Di samping itu, Mahfud menilai Gus Dur merupakan sosok hebat. Gus Dur memiliki patriotisme tinggi terhadap Indonesia.
"Sambil belajar terhadap orang seperti Gus Dur yang pengabdiannya kepada Indonesia dan kepada kemanusiaan," imbuhnya.
Mahfud berharap pemerintahan Presiden Joko Widodo juga dapat menauladani tokoh Nahdlatul Ulama itu, terutama dalam membela rakyat kecil.
"Semoga kita belajar dari kearifan Gus Dur di dalam memerintah, di dalam membina rakyat dan mencintai rakyat," ucap Mahfud.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) punya tempat sendiri di hati Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD. Mahfud merasa Gus Dur merupakan sosok yang membawanya menjadi orang berpengaruh di negeri ini.
Mahfud dijadikan Menteri Pertahanan dalam Kabinet Persatuan Nasional pada 26 Agustus 2000 – 20 Juli 2001. "Saya dulu orang kampung dan dari kampus gitu yang bukan apa-apa, tapi oleh Gus Dur diajak ke Jakarta tiba-tiba untuk bantu beliau jadi menteri. Lalu saya sampai sekarang banyak di Jakarta. Itu kenangan pribadi," kata Mahfud saat menghadiri Haul Gus Dur ke-6 di kediaman Gus Dur, Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (26/12/2015).
Di samping itu, Mahfud menilai Gus Dur merupakan sosok hebat. Gus Dur memiliki patriotisme tinggi terhadap Indonesia.
"Sambil belajar terhadap orang seperti Gus Dur yang pengabdiannya kepada Indonesia dan kepada kemanusiaan," imbuhnya.
Mahfud berharap pemerintahan Presiden Joko Widodo juga dapat menauladani tokoh Nahdlatul Ulama itu, terutama dalam membela rakyat kecil.
"Semoga kita belajar dari kearifan Gus Dur di dalam memerintah, di dalam membina rakyat dan mencintai rakyat," ucap Mahfud.
Langganan:
Postingan (Atom)



















