Rabu, 22 Juni 2016

KH Abdurrahman Addakhil Wahid (Oleh :Ayah Debay)


Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia. 





Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. 
Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya. Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya. Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatiannya. 

Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia. Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkimpoiannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir. 



Pengalaman Pendidikan Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur’an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur’an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gus Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. 


Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma’shum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersamadengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya. Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. 
Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo. Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. 

Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki. Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Perjalanan Karir Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak. Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. 


Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid..
* 1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
* 10 Maret – 20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia
* 21 Mei 1998 – Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia.

Dikisahkan oleh : Ayah Debay)
FB : https://www.facebook.com/liebedich.iev?fref=nf
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

Senin, 20 Juni 2016

Gus Dur (Oleh : Prof John Mumu, Dosen Sam Ratulangi, Wakil Rais Syuriah NU Sulut)

Sempat Cukur Kumis Gus Dur
Oleh : Prof John Mumu, Dosen Sam Ratulangi, Wakil Rais Syuriah NU Sulut

KH Abdurrahman Wahid selalu menghadirkan kenangan di benak banyak orang. Dari kalangan rakyat hingga pejabat. Tak lain, karena tangguhnya ia bersilaturahim dengan siapa pun, tanpa batas etnis, golongan politik, keyakinan ataupun kelas ekonomi.

Salah seorang yang selalu mengingat kiai yang biasa disapa Gus Dur tersebut adalah Prof. John Mumu. Seorang pensiunan dosen Universitas Sam Ratulangi, yang juga Wakil Rais Syuriyah NU Sulawesi Utara. “Saya cukup lama bergaul dengan Gus Dur. Ada 20 tahunan lebih,” ungkapnya ketika ditemui NU Online, beberapa waktu lalu. Ia mengaku kenal Ketua Umum PBNU 1984-1999 dan Presiden RI ke-4 sejak tahun 1980-an. “Ada pertemuan di Taman Mini waktu itu. Ketemu Gus Dur. Setelah acara itu, langsung dialog. Langsung akrab begitu. Kami kontak batin. Kemudian tidur-tidur dengan dia di kantor PBNU,” ungkapnya.

John Mumu, pria kelahiran Sulawesi tersebut, kemudian sering diajak jalan-jalan Gus Dur, seperti ziarah Wali Songo. Melalui Gus Dur pula ia mengenal istilah “lesehan”. “Mulanya saya tidak tahu. Ketika di suatu warung makan, duduk bersama, Gus Dur menjelaskan lesehan,” kenangnya. Ketika cucu Hadrotusy Syekh tersebut menjadi presiden, persahabatan tidak putus. “Malah saya sampai tidur-tidur di istana, ikut keliling-keliling juga.” Yang paling berkesan, sambung John Mumu, ketika ia diminta bertemu Gus Dur saat akan melawat ke Korea Selatan. “Ia mau ke Korea. Saya diminta ketemu dulu. Saya terlambat. Lari-lari. Sudah di dalam mobil, sudah mau jalan. Tapi ketika dia dikasih tahu ada saya oleh Paspampres, dia turun dari dalam mobil. Gus Dur kemudian menjelaskan bahwa ia akan memenuhi undangan pemerintah Korea. Dan minta didoakan oleh John Mumu. “Saya bilang, bukan main penghargaannya kepada saya. Luar biasa! Ini presiden,” ungkap John Mumu geleng-geleng kepala.

Ia juga berkisah pernah tidur bareng Gus Dur. “Saya pernah satu bantal dua kepala. Kalau dia pegal, saya urut, sampai dia mendengkur.” Dalam kesempatan lain, ia juga pernah menemani Gus Dur ke Surabaya. “Kami jalan-jalan hingga beberapa hari. Jenggot dan kumisnya Gus Dur kan sudah panjang. Tidak cukur-cukur. Dia kasih alat cukurnya itu. Kemudian ya saya cukur,” ungkapnya sambil tersenyum. Gus Dur juga lupa obat tetes matanya tidak dibawa. “Saya punya, saya bawa. Saya tetesin ke matanya.”

Penulis: Abdullah Alawi


Ditulis kembali oleh :
Ayah Debay (Admin Grup Sahabat Gus Dur)
Dikutip dari NU Online

Kamis, 09 Juni 2016

Cerita Gus Dur Debat dengan Cak Nur soal Sarung & Celana (Oleh : Ievyani Liebedich)

Cerita Gus Dur Debat dengan Cak Nur soal Sarung & Celana

Selain aktivis Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur semasa hidup juga dikenal sebagai cendekiawan muslim. Dalam ranah pemikiran, ia selalu dikesankan publik berseberangan dengan cendekiawan muslim Nurcholish Madjid atau Cak Nur.
Meski sama-sama pemikir pembaharu, pelakat umum yang dipasangkan banyak pihak kepada keduanya berbeda: Gus Dur tradisionalis, Cak Nur modernis. Banyak pihak menilai keduanya berbeda cara pandang dalam hal apapun karena dilatari oleh perbedaan kultur akademik dan muasal ilmu yang mereka ceruk.
Banyak cerita soal perdebatan sengit antara Gus Dur dan Cak Nur kala keduanya satu panggung dalam satu forum keilmuan. Di antaranya saat Gus Dur dan Cak Nur diundang mahasiswa Fakultas Ushuludin IAIN (kini UIN) Sunan Ampel Surabaya, awal tahun 1980-an.
"Waktu itu Gus Dur masih belum pengurus PBNU. Gus Dur hadir pakai sarung sendalan jepit, Cak Nur pakai celana rapi," kata Soerawi, akademisi sekaligus bekas pegawai Bagian Akademik Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, ditemui di rumahnya, di Jalan Jemur Wonosari Surabaya, Sabtu, 26 Desember 2015.
Soerawi ikut nimbrung di seminar yang dinarasumberi Gus Dur dan Cak Nur itu. Dua pemikir muslim itu, kata pria yang bertugas di IAIN sejak tahun 1967 itu, 'kuat-kuatan' argumentasi tentang pemikiran Islam dalam konteks ke-Indonesia-an. Sesekali debat sengit terjadi antara keduanya. Tapi sesekali pula canda mencampuri.
Yang menarik, lanjut Soerawi, kala Gus Dur dan Cak Nur berbeda pandangan tentang bagaimana seharusnya bersikap terhadap pemerintahan, yang saat itu masih dipimpin oleh Presiden Soeharto. Perdebatan terjadi bahkan dalam hal kecil, soal cara berbusana ketika bertemu dengan pejabat pemerintahan.
"Waktu itu Cak Nur bilang, 'kalau menghadap pejabat harus memakai celana dan rapi'. Tapi Gus Dur menimpali, 'kalau menghadap atasan pejabat, saya enggak masalah pakai sarung dan sendal jepit'," cerita Soerawi mengulang ucapan Gus Dur dan Cak Nur saat itu.

Gus Dur tak dikenali karena pakai sendal jepit
Soal sendal jepit, Soerawi punya cerita lain tentang Gus Dur dari temannya yang pernah mengundang Gus Dur mengisi seminar. Waktu itu, masih tahun 1980-an, Presiden RI ke-empat itu diundang mengisi seminar oleh aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. "Dari Jakarta Gus Dur ke Malang naik kereta api," ujarnya.
Menjelang jadwal kereta tiba, panitia seminar yang masih semester belia datang ke stasiun untuk menjemput Gus Dur. Begitu kereta tiba, panitia mencari Gus Dur di tengah gerombolan orang yang turun dari kereta. "Panitia tak menemukan Gus Dur turun," kata Soerawi.
Ternyata, panitia silap. Gus Dur sebenarnya sudah turun dari kereta dan melewati panitia yang mencarinya. Gus Dur mendengar pembicaraan panitia yang menjemputnya. "Gus Dur dengar panitia yang bilang dia tidak datang. Karena tidak ketemu di stasiun," kata Soerawi.
Gus Dur akhirnya naik becak dari stasiun ke kampus Unibraw. "Sampai di tempat seminar, Gus Dur cerita kejadian di stasiun ke panitia. Dia bilang, mungkin karena pakai sendal jepit dan peci, panitia yang menjemput tidak mengenal. Karena tidak berpantalon rapi," kata Soerawi sembari tersenyum.
Malam ini, Sabtu, 26 Desember 2015, haul Gus Dur digelar di Ciganjur dan kompleks Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Di Jombang, Wakil Presiden Jusuf Kalla dijadwalkan hadir di acara haul ke-enam mantan Ketum PBNU dan Presiden ke-empat Republik Indonesia itu.

Selasa, 07 Juni 2016

CATATAN RAMADHAN BUAT CALON PRESIDEN. (Oleh : Ayah Debay)

CATATAN RAMADHAN BUAT CALON PRESIDEN.

TIDAK sekali-kali aku mengabdi kepada Gus Dur kecuali untuk gagasan politik kebangsaan yang digagasnya. Dan tiada keraguan sedikit pun bagiku pikiran yang dikembangkan Gus Dur selain demi kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebab ketika aku bertanya “Bagaimana cara mengeluarkan bangsa ini dari krisis?” Gus Dur menjawab: “Karena saya orang pesantren, tiada referensi yang lebih baik kecuali Al Qur’an. Dan Surat Yusuf dengan kisah 7 sapi kurus dan 7 sapi gemuk adalah sebaik-baik metode penyelesaian krisis bagi suatu bangsa!”
Gus Dur kemudian menjelaskan kisah Kanjeng Nabi Yusuf yang spektakuler itu, yang menurut Gus Yahya (Staquf) itu hasil istikhoroh beberapa kiai khos yang diminta Gus Dur untuk mencari rumusan guna bekal menjalankan amanah sebagai Presiden RI.
“Kalau dihitung krisis bangsa kita mulai 1997, maka menurut metode Nabi Yusuf krisis akan selesaikan pada 2004,” tutur Gus Dur.
Tapi bukankah dalam Kitab Suci Nabi Yusuf menangani krisis dengan terlebih dulu melakukan kerja antisipasi sejak krisis belum terjadi? Sedang Gus Dur harus mulai pada 1999, dua tahun setelah krisis terjadi?
“Makanya kita harus bekerja lebih keras dan lebih cepat dalam membangun fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menahan agar krisis tidak semakin dalam. Kita juga harus segera menata lumbung-lumbung bangsa, sumber-sumber daya yang kita miliki, agar bisa dinikmati oleh seluruh rakyat seperti pesan Konstitusi UUD 1945,” kata Gus Dur.

Aku kemudian menyaksikan bersama kabinetnya, terutama ekonom DR Rizal Ramli yang dikatakan iman kebangsaannya 24 karat, mengayunkan langkah dengan tegap dan tegas.
Bulog yang di zaman Soeharto merupakan salah satu lumbung korupsi, direformasi agar benar-benar menjadi penopang perekonomian para petani. Dilakukan moratorium (penghentian) penjualan sumber-sumber daya alam (minyak, gas, dll). Blok Cepu yang kaya minyak dan Blok Tangguh dengan cadangan gas sangat besar, proses penjualannya ditinjau kembali.
Sedang yang sudah berjalan seperti Freeport di Papua, direnegosiasi karena di masa lalu kontraknya penuh rekayasa dan dikorup para pembesar negara. Tak lupa Rizal Ramli juga diminta Gus Dur untuk mengatur ulang berbagai tata niaga dan kebijakan moneter demi sebesar-besar kepentingan perekonomian domestik.

Di bidang sosial politik, gebrakan Gus Dur dimulai dari dalam pemerintahan sendiri. Departemen Sosial dilikuidasi. Bukan hanya karena dijadikan lahan korupsi di masa lalu, tapi untuk membangkitkan kembali solidaritas sosial di masyarakat. Sebab sesungguhnya sifat kebersamaan, penghormatan terhadap kebhinekaan (pluralisme), mengakar sangat kuat di tengah masyarakat kita.
Gus Dur juga percaya, sebenarnya rakyat Indonesia punya daya survival yang tinggi, dan setiap daerah memiliki cara untuk melakukan recovery untuk berbagai tantangannya. Bahkan dalam hal terjadi konflik sosial. Tapi oleh rezim Soeharto semua itu dirusak, dan diubah jadi ketergantungan kepada pemerintah (Pusat).
Departemen Penerangan dibubarkan karena dalam pandangan Gus Dur, tidak ada penjelasan yang lebih baik atas kinerja pemerintah kepada rakyat kecuali dengan kebijakan yang berpihak kepada rakyat, serta keteladanan para pejabat negaranya. Itulah sebabnya siapa pun pejabat publik yang terindikasi korupsi, tak terkecuali menteri-menteri dari parpol pendukung, langsung diberhentikan.
Tidak pernah dijadikan pertimbangan apakah (pemecatan menteri) korup itu akan berdampak politik atau tidak. “Kepercayaan rakyat atas kredibilitas dan integritas pemerintahan jauh lebih penting dibandingkan dampak politik di internal pemerintah (presiden),” jawab Gus Dur ketika aku mengingatkan soal pemecatan menteri-menterinya itu.

Senin, 30 Mei 2016

BELAJAR KEPADA SANG SEMAR GURU BANGSA (Oleh:Amiruddin Faisal)

BELAJAR KEPADA SANG SEMAR GURU BANGSA
Oleh : Amiruddin Faisal

Saya kira tidak ada orang yang meragukan kapasitas Dan keilmuan Dan wawasan Gus Dur.dalam berbagai disiplin ilmu terutama tentang wawasan keagamaan Dan kebangsaan. Beliau adalah orang yang sangat konsisten dalam membangun dan mengembangkan wawasan kebangsaan. Dalam perjalanan panjang kehidupannya, maka Gus Dur merupakan sosok yang selalu mengembangkan sikap inklusif, pluralistik, multikulturalistik dan demokratis. Beliau bisa bergaul dengan siapa saja dan dari latar belakang apa saja. Beliau adalah orang yang lintas agama, suku, etnis dan budaya. Seseorang tidak akan bisa menjadi Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP), jika tidak memenuhi persyaratan trans agama, suku, etnis dan budaya.
Salah satu yang sangat menonjol dari Gus Dur adalah wawasan kebangsaannya. Beliau adalah orang yang memiliki pandangan bahwa Indonesia adalah satu kesatuan politik, negara dan bangsa yang tidak boleh lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas. Dalam keadaan apapun, maka Indonesia harus tegak sebagai negara bangsa sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Tentu saja keterikatan itu terbina oleh suatu kenyataan bahwa para leluhurnya adalah orang yang turut serta dalam proses mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka beliau tidak pernah goyah sedikitpun untuk mengikuti arus perbincangan yang pernah marak di era reformasi tentang negara bagian, begara federasi dan sebagainya.
Gus Dur di manapun dan kapan pun selalu berbicara tentang NKRI. Hal itu tentu saja terkait dengan keputusan Mu’tamar NU tahun 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Asembagus Situbondo yang menetapkan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI sebagai sesuatu yang final dan berkeputusan tetap. Ijtihad para ulama inilah yang menjadi pattern for behaviour Gus Dur dalam sikap politik kenegaraannya. Sebagai konsekuensi dari keputusan itu, maka di mana dan kapan saja Gus Dur menjadi corong dan pengemuka beragama yang inklusif yang memberikan ruang seluas-luasnya untuk menjadikan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI sebagai fondasi dalam kehidupan sosial dan politik.

Gerakan menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan organisasi sosial, politik, keagamaan pada tahun 1980-an tentu tidak lepas dari peran beliau sebagai tokoh organisasi sosial keagamaan kala itu. Beliau bersama kyai-kyai NU melakukan terobosan di tengah kemandekan dan pandangan miring tentang keinginan menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi. Melalui keputusan Kyai-kyai NU itulah, maka kemudian banyak organisasi sosial, keagamaan dan politik yang melakukan hal yang sama.
Sesuai dengan cara pandang seperti itulah maka Gus Dur sering dijadikan target oleh Islam garis keras. Misalnya adalah pencekalan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) dalam salah satu ceramahnya di Jawa Tengah. Kemudian juga tindakan dan ungkapan yang tidak mengenakkan dari berbagai eksponen Islam fundamental. Misalnya, tanggapan atas pernyataan Gus Dur tentang al-Qur’an sebagai kitab yang porno.
Gus Dur memang sosok yang kontroversial. Beliau seringkali tidak sejalan dengan arus utama pemikiran keagamaan terutama arus pemikiran keagamaan yang fundamental.

Gus Dur adalah orang yang secara vulgar sering melakukan kritik terhadap Islam fundamental yang sudah menjadi bagian dari proses politik di Indonesia. Jika yang lainnya hanya sekedar membicarakan di ruang tertutup, maka Gus Dur justru menyuarakannya secara lantang. Misalnya ketika Beliau menyatakan ”bagaimana mengerem Islam fundamental, sementara banyak tokohnya yang sudah masuk di dalam struktur pengambil kebijakan.” Keberanian seperti inilah yang jarang dimiliki oleh lainnya. Sebuah paduan antara keberanian yang dilandai oleh bacaan dan analisis terhadap realitas sosial yang sangat akurat yang dihadapinya. Kberanian ini juga tentu didasari oleh kelengkapan modalitas sosial, politik dan kultural yang dimiliki Gus Dur. Modalitas sosial yang berupa jaringan sosial yang mendunia tentunya menjadi modal Gus Dur yang luar biasa, sehingga apa yang dinyatakan Gus Dur akan memperoleh pembenaran secara memadai. Kemudian modalitas politis, bahwa Gus Dur memiliki kekuatan politik di dalam dan luar negeri. Lalu modalitas kultural di mana Gus Dur merupakan tokoh organisasi Islam terbesar yang memiliki kekuatan kultural yang sangat besar.

Makanya, berbagai tindakan Gus Dur yang pada saat dilakukan dianggap kontroversial, maka pada saat berikutnya bisa dianggap sebagai suatu kewajaran sebagai konsekuensi sikap dan tindakannya yang mengedepankan inklusivisme, pluralisme, multikulturalisme dan demokratis. Ketika beliau menjadi pendiri Simon Perez Foundation, maka orang hanya melihat Simon Perez sebagai orang Israel, tetapi tidak melihat visi dan misi organisasi ini bertujuan untuk kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itulah yang dikedepankan, sehingga Gus Dur mau terlibat. Dimensi kemanusiaan dapat melampaui semuanya.
Gus Dur memang memiliki konsistensi dalam melakukan tindakan yang diyakini benar kapan dan di manapun. Beliau bahkan tidak memperdulikan apa yang dikatakan orang. Keyakinan, kemampuan analisis dan kepercayaan diri yang sangat kuat itulah yang membuat Gus Dur bisa berpandangan lain dan bertindak lain dari arus utama yang sedang berkembang.

Gus Dur memang bisa menjadi sosok yang nyleneh, akan tetapi konsisten pada prinsip.

Wallahu a’lam bi al shawab.
Alfatihah....

Kamis, 26 Mei 2016

Gusdur Melawak untuk Merangkul Masyarakat (Oleh : Ayah Debay)

Gusdur Melawak untuk Merangkul Masyarakat (Oleh : Ayah Debay)
Mantan Presiden Republik Indonesia Gusdur terkenal dengan lawak atau guyonannya. Pemilik nama lengkap Abdurahman Wahid ini pandai menciptakan lawak. Teman-teman pasti ingat Gusdur dengan guyonannya, Gitu aja kok repot. Ungkapan sederhana yang mengandung pesan berharga.
Sejauh yang saya ketahui dan saya lihat, Gusdur tidak pernah merumitkan sebuah masalah. Dia tidak repot termasuk ketika menurunkan menteri yang adalah pembantunya dari jabatannya. Dia juga tidak bertele-tele jika membantu warga minoritas yang bermasalah. Tingkahnya ini cocok dengan guyonan terkenalnya, Gitu aja kok repot.
Dengan guyonan sederhana inilah Gusdur menjalin relasi dengan banyak orang. Bukan hanya tokoh penting sekelas almarhum Romo Mangun atau petinnggi agama lainnya, dia juga bergaul dengan rakyat biasa. Lagi-lagi dalam pertemuan dengan warga dia tetap menampilkan ciri khasnya, membuat lelucon.
Lelucon yang membuat pendengarnya tertawa dan saling akrab. Nada hiburan amat ditampilkan dari leluconnya. Di mana-mana memang pelawak itu pasti menghibur. Namun, menjadi luar biasa ketika orang besar sekelas presiden membuat lelucon.
Lelucon tidak saja membuat orang tertawa tetapi juga mendidik orang. Ada guyonan Gusdur yang intinya mengajak orang untuk menjalin relasi dengan agama lain. Guyonan tentang seorang pastor dan haji misalnya. Di situ tersirat pesan kalau pastor itu tidak mempunyai istri. Jadi, Gusdur mau memperkenalkan kehidupan seorang pastor Katolik kepada pendengarnya. Tidak tanggung-tanggung dalam guyonan ini, Gusdur memakai tokoh agaman dari dua agama, Islam dan Katolik.
Hidup ini tidak perlu terlalu serius. Meskipun rakyat Indonesia masih huru-hara berjuang mencari sesuap nasi, alangkah baiknya sesekali bercanda, berlelucon ria, bersama keluarga dan sahabat atau pun teman-teman Anda. Ini tentu saja tidak mudah. Ada orang yang cenderung serius sehingga tidak mudah ketika berhadapan dengan lelucon semacam ini. Memang untuk bisa berlelucon ria, kita mesti menempatkan diri dalam waktu dan tempat yang tepat.
Sesekalilah dalam keluarga Anda diciptakan guyonan yang membuat anggota keluarga terhibur. Asal saja semuanya sudah berkumpul bersama. Tak perlu berlama-lama mengingat semua memiliki kesibukan. Tertawa itu menambah umur, kata para psikolog. Apakah ini benar atau tidak, yang jelas kalau tertawa dahi kita menjadi bersinar. Beda dengan dahi para pengambil kebijakan yang cenderung serius dan menampakkan kekerutan. Boleh jadi ramalan psikolog ini benar. Dahi kerut pertanda tua, dahi bersinar pertanda muda.
Ramalan ini mungkin tidak relevan ketika diterapkan dalam diri Gusdur. Dia mati cepat. Padahal dia pelawak. Bukan pelawak komersial yang mau mencari uang dari jasa lawaknya. Dia pelawak yang mau menyatukan masyarakat dalam suasana penghiburan. Ini persoalan lain. Saya tidak tahu, mengapa Gusdur cepat-cepat meninggalkan kita. Mungkin Tuhan menghendaki demikian. Untuk hal yang satu ini, kita manusia hanya bisa meramal, Yang Kuasalah yang menentukan. Boleh jadi Gusdur memiliki penyakit fisik yang membuatnya tidak bisa berlama-lama tinggal dengan kita.
Gusdur boleh pergi namun ia sudah meninggalkan warisan berharga. Dia memberi ruang untuk warga minoritas yang belum bisa mengekspresikan identitasnya. Mungkin Gusdur yang memprakarsai pengakuan agama Konghucu di Indonesia. Ini hanya satu contoh bahwa Gusdur merangkul semua orang, bukan hanya orang besar saja. Dalam sebuah kesempatan, Gusdur ‘menegur‘ seorang pejabat yang memanggilnya Bapak Presiden. “Panggil saja Gusdur,” katanya. Ini hanya sekadar contoh bagaimana Gusdur ingin dekat dengan warga mana saja. Tentu dalam forum resmi sebutan Bapak Presiden memainkan peran. Namun mungkin yang mau ditekankan Gusdur adalah jangan terlalu kaku dengan wibawa jabatan.
Ngomong-ngomong kapan sih presiden tidak berwibawa? Seingat saya kemana-mana presiden tetap berwibawa. Ia menjadi bapak keluarga misalnya, ia tetap berwibawa sebagai bapak keluarga. Anak-anaknya tetap memanggil bapak atau mungkin tetap dengan sebutan Bapak Presiden. Kalau demikian, mengapa Gusdur menyuruh pejabat itu memanggilnya dengan sebutan Gusdur saja? Boleh jadi Gusdur mau dekat dengan warganya. Kita, bangsa Timur memang menekankan tradisi sopan santun yang disegani oleh bangsa-bangsa Barat. Kadang-kadang kesopanan ini membuat orang kaku. Boleh jadi inilah yang mau didobrak Gusdur.
Saya tidak tahu banyak tentang Gusdur. Namanya tenar di telinga saya ketika dia menjadi presiden. Waktu itu saya masih SMA. Sekarang, saya mulai membaca riwayat hidup dan rekam jejak beliau sehingga sedikit mengenalnya.

Minggu, 22 Mei 2016

Kesederhanaan Batik Gus Dur (Oleh : Ayah Debay)

Kesederhanaan Batik Gus Dur.

Kepergian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada ujung Desember tahun lalu menyisakan banyak cerita. Tidak hanya sebatas pemikiran dan sikap politik sang Guru Bangsa yang menjadi kenangan melekat di hati banyak orang. Salah satu hal penting yang diwariskannya adalah kesederhanaan dalam berbusana batik.
Tidak bisa dimungkiri, semasa hidupnya, Gus Dur selalu mengenakan batik, yang dilakoni jauh sebelum menjadi presiden keempat.
Dalam berbagai kesempatan, batik yang dikenakan Gus Dur selalu mengisyaratkan pesan, yakni kesederhanaan. Menurut salah seorang putrinya, Inayah Wulandari, kesukaan bapaknya berbatik bukan latah, ikut tren, atau karena pejabat publik.

Inayah saat ditemui kemarin di Jakarta mengatakan, sejak awal 1990-an, ayahnya memang pencinta batik. Batik yang dikenakan Gus Dur selalu pilihan ibunya, Sinta Nuriyah. "Karena bapak tidak bisa melihat, semua kemeja batik yang dikenakan adalah pilihan ibu, bukan memakai jasa konsultan mode atau apalah," kata Inayah.
Dia menambahkan, selama ini batik yang dikenakan ayahnya bukanlah batik mahal atau yang beredar di kalangan menengah ke atas. Sikap ayahnya tentang kesederhanaan melekat pada batik yang dikenakannya dalam berbagai kesempatan. "Bapak selalu punya banyak simbol lewat joke, ungkapan, bahkan gaya berpakaian. Kesemuanya mencerminkan sosok kepribadiannya. Mengenakan batik sederhana, ya, itulah Gus Dur!"
Setahu Inayah, kecintaan Gus Dur terhadap batik adalah bagian dari kegemaran ayahnya, yang menyukai produk dalam negeri. Dalam kenangan Inayah, pada 1995, saat dirinya diajak ke Amerika Serikat bersama orang tuanya menghadiri sebuah konferensi internasional, di pesawat Gus Dur sempat berucap lirih kepadanya.
"Tuh, kamu lihat, orang bule pun suka batik. Bahkan mau belajar mengenal kebudayaan batik kita. Kamu harus bangga batik Indonesia tidak kalah dengan kain brand asing," suara Inayah menuturkan ucapan ayahnya ketika di pesawat bertemu dengan beberapa pejabat asing yang mengenakan batik. Dalam perjalanan tersebut, ia menyaksikan Gus Dur serius berdiskusi tentang batik dengan para tokoh asing yang memakai batik.

Kenangan lain yang masih membekas adalah, ketika dalam sebuah lawatan tugas kepresidenan, Gus Dur mengajak rombongan singgah ke sentra atau pusat perajin batik di Banyuwangi. "Saya teringat bapak pernah bilang, usaha kecil-menengah, seperti perajin, bisa maju pesat kalau kita tidak tergantung bahan impor," tutur Inayah.
Dia juga mengatakan bapaknya mencintai kain lokal, termasuk batik. Setiap batik yang dipilih ibunya selalu disertai penjelasan warna, motif, dan filosofi batik yang akan dipakai.
Hingga kini jumlah batik peninggalan tokoh pluralisme ini mencapai ratusan setel. Inayah menekankan, sekali lagi semua koleksi batik Gus Dur sederhana, berbahan katun. Sering disebutkan, batik Gus Dur, yang berciri motif sederhana, seperti guci, dan warnanya didominasi perpaduan hitam-putih, memberi kesan wibawa, apa adanya, dan bersahaja. "Bapak sangat jujur terhadap banyak hal dan percaya diri. Batik yang dikenakan menerangkan sosoknya."

Pengamat kain Sativa Sutan Aswar mengakui kebiasaan Gus Dur berbatik merupakan inspirasi menarik yang diwariskan bagi dunia perkainan Indonesia. Kendati batik yang dikenakan tampak biasa, "Justru label batik Gus Dur adalah batik rakyat, bukan batik gedongan. Batiknya cerminan keberhasilan diplomasi kain ala Gus Dur," kata wanita yang biasa disapa Atitje ini.
Adapun Dewi Motik Pramono mengatakan batik Gus Dur merupakan batik pinggiran. "Itu kelebihan yang harus menjadi contoh pejabat lain. Meskipun dia (Gus Dur) anak Menteng dan menjadi tokoh penting, rasa percaya dirinya berbatik rakyat mengalahkan semuanya," kata Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia ini.
Dewi menjelaskan, batik yang dikenakan Gus Dur umumnya adalah batik pesisir yang sarat akan filosofi cerita kerakyatan. Dia pernah memperhatikan Gus Dur berbatik Cirebonan, yang melambangkan cerita masyarakat pesisir dengan keliarannya, sikap bertahan hidup, serta kecintaan pada seni budaya tarling. "Itulah gaya Gus Dur, berbatik dengan hati, memahami pernik kisah masyarakat bawah," ucapnya.
Perancang busana Poppy Dharsono mengagumi gaya berbatik Gus Dur, yang mengenakan batik Batang. Gaya ini memberikan nilai tinggi. Batik rakyat bisa naik kelas dan diminati pejabat, seperti Gus Dur, yang diikuti publik. Motif batik yang biasa dikenakannya adalah flora dan fauna dalam bentuk sederhana, seperti dedaunan, bunga, kepala, sayap, dan ekor. "Gus Dur sangat komunikatif, melalui batik membicarakan problema kehidupan," ujarnya.
Poppy pun menerangkan, Gus Dur pernah berbatik motif daun dan tunas bakau. Hal ini menginspirasi para pembatik Jawa Timur dalam membuat motif yang bermakna terhadap pelestarian lingkungan pesisir hutan bakau di Surabaya.

Ditulis oleh : Ayah Debay
Admin Grup Sahabat Gus Dur