Senin, 30 Mei 2016

BELAJAR KEPADA SANG SEMAR GURU BANGSA (Oleh:Amiruddin Faisal)

BELAJAR KEPADA SANG SEMAR GURU BANGSA
Oleh : Amiruddin Faisal

Saya kira tidak ada orang yang meragukan kapasitas Dan keilmuan Dan wawasan Gus Dur.dalam berbagai disiplin ilmu terutama tentang wawasan keagamaan Dan kebangsaan. Beliau adalah orang yang sangat konsisten dalam membangun dan mengembangkan wawasan kebangsaan. Dalam perjalanan panjang kehidupannya, maka Gus Dur merupakan sosok yang selalu mengembangkan sikap inklusif, pluralistik, multikulturalistik dan demokratis. Beliau bisa bergaul dengan siapa saja dan dari latar belakang apa saja. Beliau adalah orang yang lintas agama, suku, etnis dan budaya. Seseorang tidak akan bisa menjadi Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP), jika tidak memenuhi persyaratan trans agama, suku, etnis dan budaya.
Salah satu yang sangat menonjol dari Gus Dur adalah wawasan kebangsaannya. Beliau adalah orang yang memiliki pandangan bahwa Indonesia adalah satu kesatuan politik, negara dan bangsa yang tidak boleh lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas. Dalam keadaan apapun, maka Indonesia harus tegak sebagai negara bangsa sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Tentu saja keterikatan itu terbina oleh suatu kenyataan bahwa para leluhurnya adalah orang yang turut serta dalam proses mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka beliau tidak pernah goyah sedikitpun untuk mengikuti arus perbincangan yang pernah marak di era reformasi tentang negara bagian, begara federasi dan sebagainya.
Gus Dur di manapun dan kapan pun selalu berbicara tentang NKRI. Hal itu tentu saja terkait dengan keputusan Mu’tamar NU tahun 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Asembagus Situbondo yang menetapkan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI sebagai sesuatu yang final dan berkeputusan tetap. Ijtihad para ulama inilah yang menjadi pattern for behaviour Gus Dur dalam sikap politik kenegaraannya. Sebagai konsekuensi dari keputusan itu, maka di mana dan kapan saja Gus Dur menjadi corong dan pengemuka beragama yang inklusif yang memberikan ruang seluas-luasnya untuk menjadikan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI sebagai fondasi dalam kehidupan sosial dan politik.

Gerakan menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan organisasi sosial, politik, keagamaan pada tahun 1980-an tentu tidak lepas dari peran beliau sebagai tokoh organisasi sosial keagamaan kala itu. Beliau bersama kyai-kyai NU melakukan terobosan di tengah kemandekan dan pandangan miring tentang keinginan menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi. Melalui keputusan Kyai-kyai NU itulah, maka kemudian banyak organisasi sosial, keagamaan dan politik yang melakukan hal yang sama.
Sesuai dengan cara pandang seperti itulah maka Gus Dur sering dijadikan target oleh Islam garis keras. Misalnya adalah pencekalan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) dalam salah satu ceramahnya di Jawa Tengah. Kemudian juga tindakan dan ungkapan yang tidak mengenakkan dari berbagai eksponen Islam fundamental. Misalnya, tanggapan atas pernyataan Gus Dur tentang al-Qur’an sebagai kitab yang porno.
Gus Dur memang sosok yang kontroversial. Beliau seringkali tidak sejalan dengan arus utama pemikiran keagamaan terutama arus pemikiran keagamaan yang fundamental.

Gus Dur adalah orang yang secara vulgar sering melakukan kritik terhadap Islam fundamental yang sudah menjadi bagian dari proses politik di Indonesia. Jika yang lainnya hanya sekedar membicarakan di ruang tertutup, maka Gus Dur justru menyuarakannya secara lantang. Misalnya ketika Beliau menyatakan ”bagaimana mengerem Islam fundamental, sementara banyak tokohnya yang sudah masuk di dalam struktur pengambil kebijakan.” Keberanian seperti inilah yang jarang dimiliki oleh lainnya. Sebuah paduan antara keberanian yang dilandai oleh bacaan dan analisis terhadap realitas sosial yang sangat akurat yang dihadapinya. Kberanian ini juga tentu didasari oleh kelengkapan modalitas sosial, politik dan kultural yang dimiliki Gus Dur. Modalitas sosial yang berupa jaringan sosial yang mendunia tentunya menjadi modal Gus Dur yang luar biasa, sehingga apa yang dinyatakan Gus Dur akan memperoleh pembenaran secara memadai. Kemudian modalitas politis, bahwa Gus Dur memiliki kekuatan politik di dalam dan luar negeri. Lalu modalitas kultural di mana Gus Dur merupakan tokoh organisasi Islam terbesar yang memiliki kekuatan kultural yang sangat besar.

Makanya, berbagai tindakan Gus Dur yang pada saat dilakukan dianggap kontroversial, maka pada saat berikutnya bisa dianggap sebagai suatu kewajaran sebagai konsekuensi sikap dan tindakannya yang mengedepankan inklusivisme, pluralisme, multikulturalisme dan demokratis. Ketika beliau menjadi pendiri Simon Perez Foundation, maka orang hanya melihat Simon Perez sebagai orang Israel, tetapi tidak melihat visi dan misi organisasi ini bertujuan untuk kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itulah yang dikedepankan, sehingga Gus Dur mau terlibat. Dimensi kemanusiaan dapat melampaui semuanya.
Gus Dur memang memiliki konsistensi dalam melakukan tindakan yang diyakini benar kapan dan di manapun. Beliau bahkan tidak memperdulikan apa yang dikatakan orang. Keyakinan, kemampuan analisis dan kepercayaan diri yang sangat kuat itulah yang membuat Gus Dur bisa berpandangan lain dan bertindak lain dari arus utama yang sedang berkembang.

Gus Dur memang bisa menjadi sosok yang nyleneh, akan tetapi konsisten pada prinsip.

Wallahu a’lam bi al shawab.
Alfatihah....

Kamis, 26 Mei 2016

Gusdur Melawak untuk Merangkul Masyarakat (Oleh : Ayah Debay)

Gusdur Melawak untuk Merangkul Masyarakat (Oleh : Ayah Debay)
Mantan Presiden Republik Indonesia Gusdur terkenal dengan lawak atau guyonannya. Pemilik nama lengkap Abdurahman Wahid ini pandai menciptakan lawak. Teman-teman pasti ingat Gusdur dengan guyonannya, Gitu aja kok repot. Ungkapan sederhana yang mengandung pesan berharga.
Sejauh yang saya ketahui dan saya lihat, Gusdur tidak pernah merumitkan sebuah masalah. Dia tidak repot termasuk ketika menurunkan menteri yang adalah pembantunya dari jabatannya. Dia juga tidak bertele-tele jika membantu warga minoritas yang bermasalah. Tingkahnya ini cocok dengan guyonan terkenalnya, Gitu aja kok repot.
Dengan guyonan sederhana inilah Gusdur menjalin relasi dengan banyak orang. Bukan hanya tokoh penting sekelas almarhum Romo Mangun atau petinnggi agama lainnya, dia juga bergaul dengan rakyat biasa. Lagi-lagi dalam pertemuan dengan warga dia tetap menampilkan ciri khasnya, membuat lelucon.
Lelucon yang membuat pendengarnya tertawa dan saling akrab. Nada hiburan amat ditampilkan dari leluconnya. Di mana-mana memang pelawak itu pasti menghibur. Namun, menjadi luar biasa ketika orang besar sekelas presiden membuat lelucon.
Lelucon tidak saja membuat orang tertawa tetapi juga mendidik orang. Ada guyonan Gusdur yang intinya mengajak orang untuk menjalin relasi dengan agama lain. Guyonan tentang seorang pastor dan haji misalnya. Di situ tersirat pesan kalau pastor itu tidak mempunyai istri. Jadi, Gusdur mau memperkenalkan kehidupan seorang pastor Katolik kepada pendengarnya. Tidak tanggung-tanggung dalam guyonan ini, Gusdur memakai tokoh agaman dari dua agama, Islam dan Katolik.
Hidup ini tidak perlu terlalu serius. Meskipun rakyat Indonesia masih huru-hara berjuang mencari sesuap nasi, alangkah baiknya sesekali bercanda, berlelucon ria, bersama keluarga dan sahabat atau pun teman-teman Anda. Ini tentu saja tidak mudah. Ada orang yang cenderung serius sehingga tidak mudah ketika berhadapan dengan lelucon semacam ini. Memang untuk bisa berlelucon ria, kita mesti menempatkan diri dalam waktu dan tempat yang tepat.
Sesekalilah dalam keluarga Anda diciptakan guyonan yang membuat anggota keluarga terhibur. Asal saja semuanya sudah berkumpul bersama. Tak perlu berlama-lama mengingat semua memiliki kesibukan. Tertawa itu menambah umur, kata para psikolog. Apakah ini benar atau tidak, yang jelas kalau tertawa dahi kita menjadi bersinar. Beda dengan dahi para pengambil kebijakan yang cenderung serius dan menampakkan kekerutan. Boleh jadi ramalan psikolog ini benar. Dahi kerut pertanda tua, dahi bersinar pertanda muda.
Ramalan ini mungkin tidak relevan ketika diterapkan dalam diri Gusdur. Dia mati cepat. Padahal dia pelawak. Bukan pelawak komersial yang mau mencari uang dari jasa lawaknya. Dia pelawak yang mau menyatukan masyarakat dalam suasana penghiburan. Ini persoalan lain. Saya tidak tahu, mengapa Gusdur cepat-cepat meninggalkan kita. Mungkin Tuhan menghendaki demikian. Untuk hal yang satu ini, kita manusia hanya bisa meramal, Yang Kuasalah yang menentukan. Boleh jadi Gusdur memiliki penyakit fisik yang membuatnya tidak bisa berlama-lama tinggal dengan kita.
Gusdur boleh pergi namun ia sudah meninggalkan warisan berharga. Dia memberi ruang untuk warga minoritas yang belum bisa mengekspresikan identitasnya. Mungkin Gusdur yang memprakarsai pengakuan agama Konghucu di Indonesia. Ini hanya satu contoh bahwa Gusdur merangkul semua orang, bukan hanya orang besar saja. Dalam sebuah kesempatan, Gusdur ‘menegur‘ seorang pejabat yang memanggilnya Bapak Presiden. “Panggil saja Gusdur,” katanya. Ini hanya sekadar contoh bagaimana Gusdur ingin dekat dengan warga mana saja. Tentu dalam forum resmi sebutan Bapak Presiden memainkan peran. Namun mungkin yang mau ditekankan Gusdur adalah jangan terlalu kaku dengan wibawa jabatan.
Ngomong-ngomong kapan sih presiden tidak berwibawa? Seingat saya kemana-mana presiden tetap berwibawa. Ia menjadi bapak keluarga misalnya, ia tetap berwibawa sebagai bapak keluarga. Anak-anaknya tetap memanggil bapak atau mungkin tetap dengan sebutan Bapak Presiden. Kalau demikian, mengapa Gusdur menyuruh pejabat itu memanggilnya dengan sebutan Gusdur saja? Boleh jadi Gusdur mau dekat dengan warganya. Kita, bangsa Timur memang menekankan tradisi sopan santun yang disegani oleh bangsa-bangsa Barat. Kadang-kadang kesopanan ini membuat orang kaku. Boleh jadi inilah yang mau didobrak Gusdur.
Saya tidak tahu banyak tentang Gusdur. Namanya tenar di telinga saya ketika dia menjadi presiden. Waktu itu saya masih SMA. Sekarang, saya mulai membaca riwayat hidup dan rekam jejak beliau sehingga sedikit mengenalnya.

Minggu, 22 Mei 2016

Kesederhanaan Batik Gus Dur (Oleh : Ayah Debay)

Kesederhanaan Batik Gus Dur.

Kepergian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada ujung Desember tahun lalu menyisakan banyak cerita. Tidak hanya sebatas pemikiran dan sikap politik sang Guru Bangsa yang menjadi kenangan melekat di hati banyak orang. Salah satu hal penting yang diwariskannya adalah kesederhanaan dalam berbusana batik.
Tidak bisa dimungkiri, semasa hidupnya, Gus Dur selalu mengenakan batik, yang dilakoni jauh sebelum menjadi presiden keempat.
Dalam berbagai kesempatan, batik yang dikenakan Gus Dur selalu mengisyaratkan pesan, yakni kesederhanaan. Menurut salah seorang putrinya, Inayah Wulandari, kesukaan bapaknya berbatik bukan latah, ikut tren, atau karena pejabat publik.

Inayah saat ditemui kemarin di Jakarta mengatakan, sejak awal 1990-an, ayahnya memang pencinta batik. Batik yang dikenakan Gus Dur selalu pilihan ibunya, Sinta Nuriyah. "Karena bapak tidak bisa melihat, semua kemeja batik yang dikenakan adalah pilihan ibu, bukan memakai jasa konsultan mode atau apalah," kata Inayah.
Dia menambahkan, selama ini batik yang dikenakan ayahnya bukanlah batik mahal atau yang beredar di kalangan menengah ke atas. Sikap ayahnya tentang kesederhanaan melekat pada batik yang dikenakannya dalam berbagai kesempatan. "Bapak selalu punya banyak simbol lewat joke, ungkapan, bahkan gaya berpakaian. Kesemuanya mencerminkan sosok kepribadiannya. Mengenakan batik sederhana, ya, itulah Gus Dur!"
Setahu Inayah, kecintaan Gus Dur terhadap batik adalah bagian dari kegemaran ayahnya, yang menyukai produk dalam negeri. Dalam kenangan Inayah, pada 1995, saat dirinya diajak ke Amerika Serikat bersama orang tuanya menghadiri sebuah konferensi internasional, di pesawat Gus Dur sempat berucap lirih kepadanya.
"Tuh, kamu lihat, orang bule pun suka batik. Bahkan mau belajar mengenal kebudayaan batik kita. Kamu harus bangga batik Indonesia tidak kalah dengan kain brand asing," suara Inayah menuturkan ucapan ayahnya ketika di pesawat bertemu dengan beberapa pejabat asing yang mengenakan batik. Dalam perjalanan tersebut, ia menyaksikan Gus Dur serius berdiskusi tentang batik dengan para tokoh asing yang memakai batik.

Kenangan lain yang masih membekas adalah, ketika dalam sebuah lawatan tugas kepresidenan, Gus Dur mengajak rombongan singgah ke sentra atau pusat perajin batik di Banyuwangi. "Saya teringat bapak pernah bilang, usaha kecil-menengah, seperti perajin, bisa maju pesat kalau kita tidak tergantung bahan impor," tutur Inayah.
Dia juga mengatakan bapaknya mencintai kain lokal, termasuk batik. Setiap batik yang dipilih ibunya selalu disertai penjelasan warna, motif, dan filosofi batik yang akan dipakai.
Hingga kini jumlah batik peninggalan tokoh pluralisme ini mencapai ratusan setel. Inayah menekankan, sekali lagi semua koleksi batik Gus Dur sederhana, berbahan katun. Sering disebutkan, batik Gus Dur, yang berciri motif sederhana, seperti guci, dan warnanya didominasi perpaduan hitam-putih, memberi kesan wibawa, apa adanya, dan bersahaja. "Bapak sangat jujur terhadap banyak hal dan percaya diri. Batik yang dikenakan menerangkan sosoknya."

Pengamat kain Sativa Sutan Aswar mengakui kebiasaan Gus Dur berbatik merupakan inspirasi menarik yang diwariskan bagi dunia perkainan Indonesia. Kendati batik yang dikenakan tampak biasa, "Justru label batik Gus Dur adalah batik rakyat, bukan batik gedongan. Batiknya cerminan keberhasilan diplomasi kain ala Gus Dur," kata wanita yang biasa disapa Atitje ini.
Adapun Dewi Motik Pramono mengatakan batik Gus Dur merupakan batik pinggiran. "Itu kelebihan yang harus menjadi contoh pejabat lain. Meskipun dia (Gus Dur) anak Menteng dan menjadi tokoh penting, rasa percaya dirinya berbatik rakyat mengalahkan semuanya," kata Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia ini.
Dewi menjelaskan, batik yang dikenakan Gus Dur umumnya adalah batik pesisir yang sarat akan filosofi cerita kerakyatan. Dia pernah memperhatikan Gus Dur berbatik Cirebonan, yang melambangkan cerita masyarakat pesisir dengan keliarannya, sikap bertahan hidup, serta kecintaan pada seni budaya tarling. "Itulah gaya Gus Dur, berbatik dengan hati, memahami pernik kisah masyarakat bawah," ucapnya.
Perancang busana Poppy Dharsono mengagumi gaya berbatik Gus Dur, yang mengenakan batik Batang. Gaya ini memberikan nilai tinggi. Batik rakyat bisa naik kelas dan diminati pejabat, seperti Gus Dur, yang diikuti publik. Motif batik yang biasa dikenakannya adalah flora dan fauna dalam bentuk sederhana, seperti dedaunan, bunga, kepala, sayap, dan ekor. "Gus Dur sangat komunikatif, melalui batik membicarakan problema kehidupan," ujarnya.
Poppy pun menerangkan, Gus Dur pernah berbatik motif daun dan tunas bakau. Hal ini menginspirasi para pembatik Jawa Timur dalam membuat motif yang bermakna terhadap pelestarian lingkungan pesisir hutan bakau di Surabaya.

Ditulis oleh : Ayah Debay
Admin Grup Sahabat Gus Dur

Minggu, 17 April 2016

INILAH 5 KIAI KHOS YANG MENENTUKAN KEBIJAKAN GUS DUR (Oleh Beny Murdani)

INILAH 5 KIAI KHOS YANG MENENTUKAN KEBIJAKAN GUS DUR

File Gus Dur - Saat Gus Dur masih hidup, publik kerap mendengar istilah kiai khos, atau kyai sepuh. Para kyai khos tersebut ikut andil dalam menentukan kebijakan Gus Dur saat menjadi presiden, Ketua Dewan Syuro PKB atau pun saat menjadi Ketua PBNU.
Sebelum Gus Dur menentukan sikap, biasanya kyai khos inilah yang memberi masukan kepada Gus Dur. Seperti saat jelang Pemilu 2004 silam, Gus Dur mengklaim telah didukung oleh 30 kiai khos untuk maju sebagai calon presiden.
1. KH ABDULLAH ABBAS, BUNTET CIREBON
untet Pesantren yang kita kenal sekarang ini, merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia, berdiri sejak abad 18 M dibangun oleh Mufti Keraton Cirebon, Mbah Muqoyim yang tidak mau kompromi dengan Belanda. Dengan penolakan itu, Mbah Muqoyim lebih memilih tinggal di luar tembok istana dan menjadi guru kemudian mendirikan pesantren yang kini dikenal dengan Buntet Pesantren.
Tempat yang pertama kali dijadikan sebagai pondok pesantren letaknya di Desa Bulak kurang lebih 1/2 km dari perkampungan Pesantren yang sekarang. Sebagai buktinya di Desa Bulak tersebut terdapat peninggalan Mbah Muqoyyim berupa situs makan santri yang sampai sekarang masih utuh.
Pondok Buntet Pesantren bersifat tradisional dan modern, dikatakan modern karena mengadopsi sistem sekolah modern seperti Madrasah Ibtidaiyah hingga perguruan tinggi. Adapun tradisional, dikarenakan pondok Buntet ini terus mengkaji kitab-kitrab salafussholeh yang banyak mengupas seputar Al Quran, Hadits, Tafsir, Balaghoh, Ilmu gramatika bahasa Arab, dan karya-karya Akhlak maupun tasawuf dan fiqh dari para ulama terdahulu.
Dalam perkembangan selanjutnya, kepemimpinan Pondok Buntet Pesantren dipimpin oleh seorang kiai yang seolah-olah membawahi kiai-kiai lainnya yang memimpin masing-masing asrama (pondokan). Segala urusan ke luar diserahkan kepada sesepuh ini.
Lebih jelasnya periodisasi kepemimpinan Kiai Sepuh ini berturut-turut hingga sekarang dipimpin oleh kiai yang dikenal Khos yaitu KH. Abdullah Abbas (kini Almarhum), dan digantikan oleh KH. Nahduddin Abbas. Nama-nama kiai yang dituakan dalam mengurus Pondok Buntet Pesantren secara turun-termurun adalah sebagai berikut:
1. KH. Mutaad (Periode pertama)
2. KH. Abdul Jamil
3. KH. Abbas
4. KH. Mustahdi Abbas
5. KH. Mustamid Abbas
6. KH. Abdullah Abbas
7. KH. Nahduddin Abbas (hingga sekarang)

2. MBAH LIEM KLATEN
Mbah Liem, atau KH Muslim Rifa’i Imampuro adalah pendiri Pondok Pesantren Al Muttaqin Pancasila Sakti, Klaten, Jawa Tengah. Tokoh karismatik ini wafat di usia 91 tahun saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten. Beliau dimakamkan di samping makam istrinya di Pendopo Perdamaian komplek Pondok Pesantren Al Muttaqin Pancasila Sakti, Dukuh Sumberejo Wangi, Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Klaten, Kamis malam.
Meski jasadnya sudah tiada, kiprah beliau semasa hidupnya yang terus menyuarakan tegaknya Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan selalu dikenang.
Semasa hidupnya, Mbah Liem juga dikenal masyarakat luas atas kepribadiannya yang sederhana dan bersahabat. Sehingga banyak kalangan masyarakat bawah hingga para tokoh begitu dekat dan akrab dengannya.
Pesan terakhir beliau kepada keluarga, kerabat dan para santri yakni agar selalu istiqomah, ujar KH Jazuli A Kasmani, menantu Mbah Liem beberapa tahun lalu.
Mbah Liem, selama ini dikenal sebagai salah satu kyai khos yang dekat dengan Gus Dur. Bahkan, Mbah Liem juga dikenal disegani oleh pemimpin Orde Baru, Soeharto

3. KH ILYAS RUHIYAT TASIKMALAYA
Pimpinan Pondok Pesantren (Pontren) Cipasung, KH Ilyas Ruhiat (73) wafat pada Desember 2007 silam di Kampung Cipasung, Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Mantan Rois AM PBNU Pusat diera kepengurusan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu, meninggalkan tiga orang putra-putri, H Acep Zamzam Noor, Hj Ida Nurhalida, dan Hj Enung Nursaidah serta meninggalkan 12 orang cucu.
KH Ilyas Ruhiyat, dilahirkan di Cipasung pada 13 Januari 1934, ayahnya adalah ulama besar di kabupaten tersebut, KH Ruhiat dan ibunya Hj Aisyah. Semasa hidupnya selain menuntut ilmu pada ayahnya, Ilyas juga mengikuti pengajian kepada sejumlah tokoh pimpinan pondok pesantren di Jawa Barat diantaranya kepada Kiai Saefulmillah, Abdul Jabar dan Ustaz Bahrum.
Kiai Ilyas Ruhiyat sendiri pada tahun 1990-an merupakan ulama NU yang sangat disegani di tingkat nasional. Pada Muktamar NU tahun 1995 di Cipasung, Tasikmalaya, Kiai Ilyas mendapat amanah untuk memimpin NU bersama Gus Dur.
Pada masa itu, Kiai Ilyas mampu membawa NU melewati masa-masa sulit karena menolak intervensi Orde Baru. Kiai Ilyas pernah pula menolak permintaan pemerintah yang memohon kesediaannya menjadi anggota MPR demi menuntut independensi NU.

4. KH CHUDLORI MAGELANG
KH Chudori Pendiri Pesantren Tegalrejo, Magelang yang juga santri KH. Hasyim Asyari adalah Sosok yang mempengaruhi pemikiran Gus Dur tentang makna dan peran agama dalam keberagaman masyarakat.
Ketika pada suatu saat Kiai Chudlori yang pernah berguru pada Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asyari itu menerima rombongan tamu dari sebuah desa (desa tepus 10 km dari pesantren), tamu-tamu itu memiliki persoalan dan memerlukan sebuah solusi dari Kiai Chudlori.
Mereka menceritakan bahwa pada saat itu bondo deso (kas desa) yang terkumpul sedang disengketakan oleh warga. Satu pihak menginginkan kas desa digunakan untuk merehabilitasi bangunan masjid. Sedang sebagian warga yang lain menginginkan kas desa itu digunakan untuk membeli gamelan (seperangkat alat musik tradisional jawa).
Musyawarah demi musyawarah warga desa itu tidak kunjung menghasilkan kesepakatan, dan satu-satunya kesepakatan yang mereka buat adalah meminta ‘fatwa’ dari Kyai Chudlori.
Betapa tercengang Gus Dur karena di luar dugaannya, Kiai Chudlori memberikan fatwa bahwa sebaiknya kas desa itu dibelikan gamelan.
Hal yang sama juga terjadi di pihak warga yang menginginkan rehabilitasi masjid, mereka mempertanyakan fatwa Kiai Chudlori.
Dengan jawaban singkat Kyai Chudlori menjawab, “Nanti kalau gamelannya sudah ada, kelak masjidnya akan jadi dengan sendirinya”.
Mungkin peristiwa inilah awal perkenalan Gus Dur pada pemikiran kontroversi. Selama hidupnya, Gus Dur juga pernah nyantri di pesantren Kiai Chudlori ini.

5. KH ABDULLAH FAQIH, LANGITAN TUBAN
Kiai Abdullah Faqih, Langitan, Tuban, Jawa Timur adalah sosok kyai khos yang semasa hidup begitu dekat dengan Gus Dur. Bahkan, Kiai Faqih ternyata adalah sosok utama yang mendorong majunya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai presiden.
“Tahun 1999 menjelang Sidang Umum MPR pemilihan presiden, yang paling berperan bukan poros tengah, tapi poros Langitan yang digagas Kiai Faqih,” kata Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf, Kamis, (1/3/2012) saat Kyai Faqih meninggal dunia.
Menurut Syaifullah, majunya Gus Dur sebagai calon presiden sebenarnya banyak ditentang para kiai. Namun, Kiai Abdullah Faqih justru mengundang beberapa tokoh kiai sentral NU untuk membahas masalah itu.
Mereka diundang untuk berembuk di Pondok Pesantren Langitan Tuban. Hasil pertemuan yang digagas Kiai Langitan itu akhirnya mendukung pencalonan Gus Dur untuk maju sebagai calon presiden yang didukung poros tengah.
“Beliau itu ulama besar dengan santri ribuan yang istiqomah tidak hanya bisa bicara, tapi juga ikut berjuang dengan ikhlas demi umat,” kata mantan Ketua Umum GP Ansor tersebut.
Namun, belakangan Kyai Faqih berseteru dengan Gus Dur. Terbukti, Kiai Faqih merupakan salah satu penggagas berdirinya PKNU, yang saat itu menjadi rival dari PKB.
Sumber tulisan: http://bit.ly/1STT0iU

Ditulis kembali oleh : Beny Murdani
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

GUS DUR SANTRI HABIB ALI AL HABSYI KWITANG. (Oleh :Ievyani Liebedich)

GUS DUR SANTRI HABIB ALI AL HABSYI KWITANG.

Pada suatu ketika Habibana Al-Walid Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri Tebet memanggil muridnya yang paling senior yaitu KH. Fakhrurrozi Ishaq dan Habib Idrus Jamalullail mengenai hal penghinaan yang dilakukan kedua muballigh itu kepada Gus Dur yang pada saat itu telah menjadi Presiden RI ke-4.
Menurut penuturan Ustadz Anto Djibril yang ketika itu hadir di pengajian hari Senin pagi itu Al-Walid bertanya kepada jama’ah yang hadir, “Aina Rozi wa Idrus bin Alwi…?”
Dan keduanya yang hadir mengaji sama menyahut, “Maujud ya habib.”
Lalu Habibana berkata, “Ente berdua jangan pulang ya, ana ada perlu.”
“Ya Rozi ya Ye’ Idrus, ente berdua kalau jadi muballigh gak usah kata-kata kotor sama orang, apalagi sama cucunya KH. Hasyim Asy’ari itu. Ente tahu yang namanya Gus Dur itu siapa? Biar ente faham ya… seluruh Auliya’illah min Masyariqil Ardhi ilaa Maghoribiha, kenal dengan Gus Dur dan ente ini siapa berani mencela – mencela dia. Dan ana sangat malu kalau ada murid atau orang yg pernah belajar sama ana menghina Gus Dur dan juga menghina lainnya. Kalau ente belum bisa jadi seperti Gus Dur, diam lebih baik. Kalau sudah bisa jadi seperti Gus Dur, ngomong dah sana sampe berbusa-berbusa.”
Maka sejak mendapat teguran dari Al Walid itulah, KH. Fakhrurrozi Ishaq dan Habib Idrus bin Alwi Jamalullail bungkam kalau pas bicara masalah Gus Dur.
Diperoleh keterangan ternyata Gus Dur adalah murid langsung dari Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang. Gus Dur waktu kecil diajak ayahnya, KH. Abdul Wahid Hasyim. Dan di Jakarta beliau sempat mengkhatamkan 9 kitab di hadapan Habib Ali Al Habsyi.
Sewaktu masih menjabat presiden, Gus Dur pernah hadir di Majelis Ta’lim Kwitang. Beliau datang ba’da shubuh tanpa pengawalan ketat dan Gus Dur duduk ikut pembacaan Asmaul Husna sampai selesai.
“Aduh Pak Presiden, kalau kesini kasih kabar dong,” kata Habib Abdurrahman bin Muhammad Al Habsyi.
“Mending begini bib, kalo kasih kabar ya nanti kasihan jama’ah bisa jadi repot,” jawab Gus Dur.
Dan setahun sebelum Gus Dur wafat, beliau mau ziarah di waktu Maulid di Kwitang, lalu Habib Abdurrahman Al Habsyi berkata,
“Kalau ada yang tahu Gus Dur kemari, cepat kabarin ana ya.”
Tapi dari pihak Gus Dur tidak ada kabarnya dan Yenni Wahid waktu dihubungi tidak menjawab. Dan ternyata Gus Dur nyarkub di jam 11 malam dan itu menurut penuturan pengurus Masjid Ar-Riyadh. Begitulah Gus Dur, beliau orangnya tidak mau merepotkan orang lain.
Semoga sepenggal kisah Gus Dur dengan beberapa habaib sepuh ibukota ini bisa menambah kecintaan kita kepada beliau-beliau..Lahumul Fatihah.

Ditulis oleh :Ievyani Liebedich
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

TERUNGKAP! INI PENYEBAB GUS DUR TINGGALKAN ISTANA NEGARA (Oleh :Benny Murdani)

TERUNGKAP! INI PENYEBAB GUS DUR TINGGALKAN ISTANA NEGARA

Saat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, parlemen mencoba menggulingkan Gus Dur dari kursi Presiden RI dengan dalih kasus hukum yang sampai hari ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Melihat kejanggalan tersebut, tentu saja Gus Dur menolak untuk diturunkan.
Hal ini disampaikan oleh KH Maman Imanulhaq saat mengisi kegiatan peringatan Isra Mi'raj di Pondok Pesantren Raudlatul Hasanah, Subang, Jawa Barat, Rabu (13/4).
"Gus Dur tahu bahwa ini adalah masalah politik, bukan masalah hukum. Beliau tidak pernah bersalah secara hukum, tapi dikalahkan secara politik,” tegas Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, Jawa Barat itu.
Kiai muda yang akrab disapa Kang Maman itu melanjutkan, masyarakat pun tahu soal kejanggalan masalah ini sehingga dukungan dari daerah terus mengalir kepada Gus Dur. Namun Gus Dur berpikir kalau situasi ini dibiarkan begitu saja dikhawatirkan akan terjadi perang saudara antara kelompok pro Gus Dur dan pro parlemen.
"Gus Dur saat itu berpikir daripada perang saudara hanya gara-gara mempertahankan jabatan duniawi, lebih baik ia mundur saja dari jabatan presiden," tambah Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU itu.
Namun, lanjut Kang Maman, Gus Dur masih belum menemukan alasan yang tepat untuk keluar dari Istana. Karena yang dituduhkan parlemen jelas tidak bisa diterima sebab tidak rasional dan juga inkonstitusional.
"Sampai suatu ketika Gus Dur meminta kepada salah satu menterinya, Luhut Binsar Panjaitan untuk menemui Lurah Gambir, Jakarta Pusat karena Istana Negara berdomisili di Kelurahan Gambir," ungkap anggota DPR RI itu.
Waktu itu, imbuh Maman, Luhut diinstruksikan untuk meminta agar Lurah Gambir segera membuat surat sakti yang isinya menyatakan bahwa situasi sedang genting sehingga Gus Dur harus meninggalkan Istana Negara.
Saat Gus Dur ditanya kenapa harus membuat surat ini. "Supaya nanti ketika di hadapan Allah ditanya kenapa kamu meninggalkan istana? Saya menjawab: coba tanya saja ke Lurah Gambir,” pungkas Maman.

Ditulis ulang oleh : Benny Murdani
Profile :https://www.facebook.com/beny.murdani.73/posts/193956200996750?notif_t=tagged_with_story&notif_id=1460887779111186
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

Sabtu, 16 April 2016

GUS DUR & KEDEKATANNYA DENGAN NON MUSLIM (Oleh Prof.Muhammad A S Hikam)

GUS DUR & KEDEKATANNYA DENGAN NON MUSLIM.

Dikutip dari bukunya Prof. Muhammad A S Hikam, “Gus Dur Ku, Gus Dur Anda , Gus Dur Kita”.
“Salah satu episode yang saya saksikan sendiri dan berbekas mendalam ketika dalam sebuah seminar di Masjid Sunda Kelapa sekitar th 1996, bulan Desember. Gus Dur (GD) dikritik Pak Yusril Ihza Mahendra (YIM) soal kedekatan beliau dengan kelompok non Muslim, khususnya ummat Kristiani.
YIM mengatakan, sambil mengutip ayat Qur’an yang berbunyi “Muhammadun Rasulullah. Walladzina ma’ahu asyiddaa u ‘alal kuffaari ruhamaa u bainahum.. “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangatlah tegas / keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang terhadap sesama mereka.” (Al-Fath: 29).”. Menurut YIM, Gus Dur tidak mengikuti ayat ini karena justru beliau terbalik “ramah tamah dengan orang non Muslim, dan sering mengeritik keras terhadap sesama Muslim..”

Gus Dur menjawab dengan santai seperti biasa: “Saudara Yusril perlu mengaji lebih dulu sebelum memberi tafsir Qur’an dengan benar. Tegas di dalam ayat ini berarti tegas dalam soal keimanan, bukan soal pergaulan. Kita sebagai Muslim (apalagi dalam kondisi mayoritas) tentu harus tetap ramah dan melindungi terhadap orang non Muslim yang minoritas. Kalau saya sering bersikap kritis terhadap sesama gerakan Islam di Indonesia, ya karena dalam semangat “tawashou bil haq”. Memberikan pembelajaran internal, memang beda dengan pembelajaran keluar. Justru “ruhamaa” atau kasih sayang itu saya ekspressikan dengan cara kritik. Kadang-kadang terdengar keras, tetapi saya tak memonopoli kebenaran seperti kebanyakan ormas atau tokoh-tokoh Islam lainnya..”

Ditulis kembali oleh :Ievyani Liebedich
Anggota Grup Sahabat Gus Dur